SEJARAH KERAJAAN NAGUR DAN MARGA DAMANIK DI SUMATERA TIMUR, SERTA SIMALUNGUN (500-1946)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

SEJARAH KERAJAAN NAGUR DAN MARGA DAMANIK DI SUMATERA TIMUR, SERTA SIMALUNGUN (500-1946)

Post  Admin on Tue Mar 06, 2012 3:22 pm

OLEH: NURDIN DAMANIK DAN KADIM MORGAN DAMANIK

(MASING-MASING KETURUNAN TUAN PANGULUBALANG SIPOLHA RAJA SOSIAR MANGULA DAN KEDUA ADALAH MANTAN KETUA UMUM PMS KABUPATEN SIMALUNGUN)

Umum



Setelah mempelajari dan membaca beberapa buku-buku sejarah dunia dapatlah diketahui bahwa di daerah Nusantara atau lebih dikenal orang zaman sekarang dengan sebutan Asia Tenggara, telah berdiri tiga kerajaan abad ke-5 Masehi yaitu :

Kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat.
Kerajaan Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur.
Kerajaan Nagur di Sumatera Timur.

Yang akan diterangkan dalam tulisan ini ialah mengenai keberadaan satu kerajaan di pedalaman Sumatera Timur abad ke-5 Masehi yaitu Kerajaan Nagur (selanjutnya lihat peta).

Memang dalam buku-buku sejarah nasional Indonesia bahwa keberadaan Kerajaan Nagur itu tidak ada tercantum, tetapi dari hasil penyelidikan para ahli-ahli sejarah di kemudian hari sepeti H. Maratua Siregar guru sejarah di Vervolg School di zaman Belanda di Pamatang Siantar bahwa ada satu kerajaan di pedalaman Sumatera Timur di tepi sungai Bah Bolon lebih kurang 3 kilometer dari kota Pardagangan sekaran, dahulu kala dikenal dengan nama Pulau Pandan dan sekarang dikenal orang tempatnya itu Kramat Suci atau Kubah Pardangangan.

Dari nama Pulau Pandan itulah berasal nama Pustaha Parpandanan Na Bolag, dari sinilah pusat Kerajaan Nagur tersebut berkembang sehingga berpengeruh ke segala penjuru Sumatera Utara, sehingga nama Nagur tersebut terpakai di beberapa tempat seperti :

Di Aceh dengan sebutan Nanggroe Aceh Darussalam.
Di Samosir dengan sebutan Nagari Tomok, Nagari Simanindo.
Di Simalungun dengan sebutan Nagori.
Di Minangkabau dengan sebutan Nagari atau Kenagarian.
Di Indonesia dengan sebutan Negeri.
D Malaysia dengan sebutan Negeri.
Satu hal yang menjadi pemikiran kenapa Nagur itu menjadi nama yang dipakai di beberapa tempat terutama di Pulau Sumatera bagian utara, berarti benar ada satu kerajaan besar yang berpengaruh di pedalaman Sumatera Timur sekitar 1500 tahun yang lalu saat tulisan ini dibuat.

Untuk mengetahui dari mana asalnya manusia Nagur abad ke-5 Masehi yang mendirikan Kerajaan Nagur di pedalaman Sumatera Timur di tepi sungai Bah Bolon atau di dekat Kota Pardaganagan sekarang, haruslah membuka buku-buku sejarah dunia, supaya diketahui, di manakah di muka bumi yang mula-mula ada penghuninya.

Sejarah dunia telah membuktikan bahwa manusia pertama yang mempunyai peradaban atau sesuai dengan penggalian-penggalian para arkeolog untuk mencari bukti-bukti sejarah yang tertua adalah adalah di Mesopotamia di Timur Tengah letaknya kira-kira di Iraq sekarang ini.

Kalau dihubungkan dengan cerita-cerita Alkitab atau Bibel pada waktu air menggenangi bumi di zaman Nabi Nuh dan sesudah air surut bahwa asal-usul manusia sebagai penghuni bumi ini berasal dari 3 (tiga) orang putera Nabi Nuh, masing-masing bernama: Sem, Ham dan Zapet.

Dari keturunan Nabi Nuh inilah manusia berkembang menurut Alkitab atau Bibel pada mulanya berasal dasi suatu tempat yang dialiri dua sungai besar yaitu sungai Tigris dan Eufrat; sungai tersebut berada di negara Iraq sekarang kalau diteliti dalam peta termasuk dalam geografis Timur Tengah.



Alkitab seterusnya menceritakan bahwa keturunan Sem berkembang ke Timur dan turunannya dalam bahasa ilmiah disebut Semitis.

Turunan Ham berkembang ke selatan atau ke Afrika dan turunan Ham ini bernama Misraim atau Misir dalam bahasa ilmiahnya disebut Hamitis.

Selanjutnya Zapet berkembang ke Barat yang menjadi leluhur bangsa Eropa dan mereka menyebut bangsanya bangsa Aria.

Ingat buku Prof. Dr. Albert Rosenberg yang berjudul Nazi Rossen Teory di zaman Hitler bahwa bangsa Aria itu ras yang terunggul, sebagian keturunan Zapet ini membelok ke arah Utara menuju Laut Hitam dan mendarat di Pegunungan Kaukasus dan mereka ini kelak di kemudian hari oleh para penulis-penulis sejarah disebut Kaukasoid.

Bangsa Kaukasoid inilah berkembang ke benua Asia dan dari Laut Kaspia sebagian turun ke selatan menjadi suatu bangsa yang disebut Iran atau Aria + 1500 tahun sebelum Masehi sebagian lagi terus ke Asia Tengah dan melalui celah-celah atau Kaibar Pass di pegunungan Himalaya turun ke satu jazirah Asia Selatan dan di sana menyebut dirinya Aria Warta, oleh ilmuwan bangsa Yunani, waktu Iskandar Agung menaklukkan jazirah tersebut dan menjumpai sebuah sungai besar yang benama Indus dan para ahli ilmu pengetahuan yang turut serta bersama Iskandar Agung raja Yunani itu dan mereka menyebut daerah itu India. Menurut nama sungai besar yang mereka jumpai yaitu sungai Indus, di belakang hari penyebutan India ada juga menyebutnya Hindustan.



Masuknya bangsa Kaukasoid itu ke dalam jazirah Asia Selatan menurut buku-buku sejarah zaman kuno + 1000 sebelum Masehi. Dalam kurun waktu 1400 tahun lamanya di jazirah tersebut silih berganti kerajaan-kerajaan besar dari bangsa Hindustan sampai kepada zamannya Kaisar Samudra Gupta yang terkenal itu. Di akhir abad ke-4 Masehi dengan datangnya satu bangsa dari Asia Tengah, menurut para ahli sejarah bangsa itu disebut Hun, tetapi orang Tionghoa menyebutnya bangsa Siung Nu. Bangsa Hun ini juga menyerbu Kerajaan Iran dan Persia, juga Byzantium atau Romawi Timur dan mengancam Roma ibukota Romawi Barat. Mereka juga menyerang ke India.

Terkenal dalam sejarah, perjumpaan raja Hun bernama Attila dengan Paus pimpinan Katolik Roma dan Paus meminta kepada Attila supaya jangan lagi mengadakan pengrusakan-pengrusakan di belahan bumi lain dan Attila selanjutnya tidak lagi mengadakan serangan-serangan ke berbagai penjuru di mana penghuninya telah mempunyai peradaban.

Pada abad ke-4 Masehi dan awal abad ke-5 Masehi terjadi kekacauan yang luar biasa di jazirah Asia Selatan yang disebut tanah Hindustan akibat serangan-serangan bangsa Hun yang masih barbar sifatnya, merusak, membakar dan menjarah daerah yang didatanginya. Sebuah kerajaan kecil di tenggara jazirah tersebut bernama Nagore penduduknya banyak yang mengungsi; sebagian menuju ke timur melalui lautan dan sampai di tanah semenanjung dan bercampur baur dengan penduduk setempat dengan ras Melayu Tua.

Bangsawan-bangsawan Hindustan sudah kebiasaan memakai seban di kepala dilengketi oleh bermacam-macam berlian dan manik-manik begitu juga di leher, di tangan dan di pinggang, sehingga bagi yang melihatnya sangat anggun dan berwibawa. Pertengahan abad ke-5 Masehi turunan bangsawan Nagore itu menyeberang ke pantai timur Sumatera Timur dan mendarat di satu tempat, jika di malam hari terang bulan banyak batu-batu putih bercahaya dan dinamailah tempat itu Batu Bara.

Dari Batubara inilah keturunan bangsawan Nagore itu membawa rakyatnya memasuki pedalaman Sumatera Timur mengikuti jalur sungai Bah Bolon dan sampai di suatu tempat yang disebut Pulau Pandan.

Dalam kegiatan sehari-hari untuk mengatur rakyatnya turunan bangsawan Nagore itu selalu memakai pakaian kebesarannya yang bertatahkan berlian dan mutiara manik-manik; maka oleh rakyatnya digelarilah bangsawan itu: Daru Parmanik-manik. Menurut Djahutar Damanik, kelak dikemudian hari dipendekkan orang menjadi DAMANIK. Dan bagi keturunanya dipakai menjadi marga Damanik, salah satu marga pokok bagi suku Simalungun.

Datu Parmanik-manik inilah pendiri Kerajaan Nagur di Pulau Pandan + tahun 490 Masehi. Tuan Sjah Alam Damanik menyebut Datu Parmanik-manik ini dengan nama Sri Nagur Raya Damanik. Pada tahun 570 Masehi telah ada catatan mengenai Nagur ini dalam sejarah Cina waktu Dinasti Sui. Datuk Parmanik-manik menamai kerajaannya Nagur mengingat nama kampung leluhurnya dari India bernama NAGORE.


Admin
Admin

Jumlah posting : 18
Join date : 28.02.12

http://batak.nicetopics.com

Kembali Ke Atas Go down

SEJARAH KERAJAAN NAGUR PULAU PANDAN DI SUMATERA TIMUR

Post  Admin on Tue Mar 06, 2012 3:24 pm



Semenjak berdirinya Kerajaan Nagur di Sumatera Timur akhir abad ke-5 Masehi oleh orang Nagur dahulu itu diciptakanlah tata cara kebudayaan sebagai contoh memuja Yang Maha Tinggi atau penguasa alam semesta dengan sebutan Naibata (dari Devata/Sansekerta) sehingga tercipta Dolog Sinumbah yang artinya mereka memuja atau menghormati Naibata di atas bukit yang tinggi atau “dolog”. Di kemudian hari oleh generasi penerus Nagur dalam upacara menghormati Naibata di suatu tempat yang agak tinggi tempatnya disebut “manumbah”. Kerajaan Nagur berkembang terus karena hasil perdagangangya dengan kerajaan luar terutama ke negeri Cina yaitu hasil yang sangat melimpah dari Kerajaan Nagur seperti karet balata (rambung merah), damar, rotan dan lain-lain. Kegunaan karet balata pada waktu itu untuk membuat dompol dalam industri perkapalan Cina yang ratusan ribu banyaknya; ingat Cina sudah berpenduduk 4,000,000 jiwa pada abad ke-5 Masehi.

Menurut pustaha Simalungun yang diriwayatkan orang-orangtua bahwa Kerajaan Nagur Pulau Pandan ini sangat kaya dan makmur; sehingga kabar kerajaan ini tersebar ke seluruh Asia Timur, sampai juga kepada Kerajaan Cholamandala (Coromandel) di India Selatan dan Rajendra Chola raja dari India Selatan yang mengerahkan armada perangnya menyerang dan menjarah Kerajaan Nagur itu pada tahun 1025 Masehi. Rajendra Chola juga menyerang Kerajaan Sriwijaya di Palembang pada tahun yang sama.



Dalam serangan India ini, Kerajaan Nagur Pulau Pandan hancur lebur dan semua penduduknya emngungsi menyelamatkan dirinya keluar dari Pamatang Nagur. Masing-masing rombongan di bawah pimpinan ketiga putra raja Nagur masing-masing bernama :

MARAH SILAU
SORU TILU
TIMO RAYA

Sejak penghancuran dan penjarahan oleh orang India ke Nagur, sebelum ditinggalkan orang India itu, Pamatang Nagur dibakar habis sehingga rata dengan tanah dan di kemudian hari tidak ditempati manusia lagi dan tinggallah legenda-legenda bagi manusia penerus Nagur (Simalungun) di kemudian hari dan bekas ibukota Nagur itulah menjadi Keramat Suci atau Kubah Pardagangan sekarang.

Putra Nagur Pulau Pandan yang pertama bernama MARAH SILAU mengundurkan diri ke arah selatan Pulau Pandan arah ke Tapanuli Selatan menunggu keadaan aman dengan rencana mendirikan Kerajaan Nagur kembali, tetapi tidak berhasil karena keadaan di Selat Malaka berubah, di mana rebutan kekuasaan di selat itu antara kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya; Kerajaan Samudera Pasai dan bajak laut yang merajalela di selat tersebut sehingga tidak memungkinkan beroperasinya pelabuhan perdagangan atau di zaman kuno disebut SANG PANG TO.

Selama 300 tahun Nagur Pulau Pandan setelah dihancurkan orang India, terciptalah apa yang disebut Hikayat Parpandanan Na Bolag atau pustaka Simalungun kuno yang menceritakan bahwa di bekas sisa-sisa Kerajaan Nagur Pulau Pandan dari keturunan Marah Silau menjabat sebagai raja Parpandanan Na Bolag mempunyai seorang putera yang bernama Tuan Sormaliat dan Tuan Sormaliat mempunyai seorang putera yang bernama Si Anas Bondailing yang lahir di Tapanuli Selatan (Mandailing=Mandalay) dan Si Anas Bondailing mempunyai seorang putera bernama Si Pakpak Mularaja yang sesudah dewasa kembali ke Nagur Pulau Pandan.

Kamus bahasa Simalungun “ipakpakhon” artinya diletakkan dasar pembentukan kerajaan dari Nagur Pulau Pandan dahulu kala itu dari keturunan Marah Silau Damanik menjadi 3 (tiga) kerajaan di sekitar alur sungai Bah Bolon. Ingat, Bah Bolon berasal dari pegunungan sekitar Dolog Simarjarunjung dan Sijambak Bahir (Indonesia “menjangkau langit”) atau dari kampung Gorbus Kecamatan Pamatang Sidamanik sekarang.

Dari keturunan Si Pakpak Mularaja Damanik inilah kelak muncul 3 (tiga) keturunannya yaitu :

Raja Manik Hasian (1360 Masehi).
Raja Jumorlang (1400 Masehi).
Raja Siantar (1445 Masehi).

Ketiga kerajaan sama-sama bermarga Damanik :

Kerajaan Manik Hasian dahulu kala itu berpusat di hulu Sungai Bah Bolon + 40 kilometer dari Pamatang Siantar berdiri tahun 1360 Masehi.
Kerajaan Jumorlang pertama-tama didirikan di Nagahuta tetapi kemudian ibukota kerajaan dipindahkan ke kaki Gunung Sijambak Bahir berdekatan dengan ibukota kerajaan abangnya Raja Manik Hasian letaknya di tepi Sungai Bah Hilang yaitu cabang sungai Bah Bolon tahun 1400 Masehi.
Kerajaan Siantar berdiri tahun 1445 di Pulou Holang di Pamatang Siantar sekarang, yaitu di kampung Pamatang sekarang ini; dalam sejarah disebut Pulou Holang karena terletak di delta Sungai Bah Bolon. Nama Siantan berubah menjadi Siantar sesudah pendiri Kerajaan Siantar Oppung Partiga-tiga Sihapunjung dilantik menjadi raja Siantan di atas “palattar” dan sejak itu Siantan menjadi Siantar sampai sekarang. Ketiga kerajaan tersebut di atas dengan berpuluh-puluh partuanonnya kelak di kemudian hari memakai marga Damanik Bariba (menurut sebutan orang Samosir “na i bariba i = di seberang itu”) sampai sekarang.



Rombongan Soro Tilu atau putra kedua Raja Nagur Pulau Pandan waktu serangan India ke Nagur tahun 1025 Masehi mengungsi ke arah utara yaitu ke sebelah timur Gunung Dolog Simbolon sekarang dan mendirikan Kerajaan Nagur; di sini dengan nama Nagur Bayu (Nagur Baru) da daerahnya meliputi sekeliling Dolog Simbolon, daerah Sappiniou (Sipispis sekarang), Saribujawa, Raya Kahean, Padang-Badagei (Tebing Tinggi sekarang) sampai ke pesisir Selat Malaka. Abad ke-17 daerah Kerajaan Nagur Bayu ini menjadi daerah Kerajaan Raya dinasti Saragih Garingging.



Dalam sejarah dikenal nama-nama raja Nagur Bayu ini, seperti Sangai Alam Damanik, Sang Majadi, Anggaraim Na Bolon, semua dari keturunan Tuan Soro Tilu Damanik. Dan Kerajaan Nagur Bayu ini terus berdiri sampai datangnya orang-orang Eropa seperi: Portugis. Spanyol, Belanda, Inggris dan lain-lain. Menjelang datangnya Belanda ke Sumatera Timur abad ke-17 dan munculnya satu kerajaan di sebelah barat dari Kerajaan Nagur Bayu, kelak Kerajaan yang baru itu bernama Kerajaan Raya; akhir abad ke-19 Kerajaan Nagur Bayu itu sebagian masuk ke dalam Kerajaan Raya, Kerajaan Saribujawa dan sebagian masuk ke dalam Kesultanan Deli dan Serdang. Yang tinggal sekarang hanya nama-nama kampung peninggalan Kerajaan Nagur Bayu seperti nama Nagur Raja (sekarang Nagaraja), Nagur Usang, Saribu Jawa, Pamatang Nagur di Kecamatan Tanjung Beringin dan Bandar Kalipah. Kerajaan Saribu Jawa yang terakhir adalah Tuan Dahatam Damanik.



Umumnya turunan Tuan Soro Tilu Damanik raja Nagur Bayu atau Nagur Dolog Simbolon itu memakai marga Damanik :

Damanik Nagur
Damanik Rappogos/Raja Nagur
Damanik Sola
Damanik Malayu
Damanik Sarasan
Damanik Rih
Damanik Hajangan
Damanik Usang

Tetapi belakangan ini turunan Raja Nagur Soro Tilu ini banyak memakai marga Damanik Raja, karena mereka Damanik pertama di Sumatera Timur abad ke-6 Masehi dan bukan turunan marga Manik Raja dari Pulau Samosir.



Keturunan Nagur Pulau Pandan yang ketiga yang bernama Tuan Timor Raya Damanik dengan rombongannya berangkat ke arah barat mengikuti alur Sungai Bah Bolon dan sampai di tanah datar antara Gunung Dolog Simarjarunjung dan Dolog Sijambak Bahir dan turun ke tepi Laut Tawar (Danau Toba sekarang), menjumpai suatu tempat yang bagus dan luas dikelilingi oleh jurang yang dalam, hanya satu jalan untuk masuk, memang begitulah model kampung zaman dahulu itu, supaya mudah mempertahankan kampung jika ada serangan dari luar; hanya satu jalan saja yang perlu dipertahankan. Daerah itu kelak disebut namanya Si Bona-bona.[1]

Lebih kurang 100 tahun turunan Nagur Timo Raya (Timur Raya) itu bermukim di Si Bona-bona atau di tepi Laut Tawar dekat Tuktuk Silumonggur atau Tanjung Unta sekarang, berdirilah satu kerajaan di tepi Laut Tawar menurut keterangan orang-orangtua zaman dahulu bernama Kerajaan Bornou, kira-kira tahun 1250 Masehi.

Keturunan Kerajaan Bornou ini umumnya memakai marga Damanik Tomok; oleh karena istilah “Tomok” inilah, maka ada sebagian orang (khususnya orang Batak Toba) menganggap pendiri Kerajaan Bornou ini berasal dari Negeri Tomok – Samosir dari keturunan marga Manik Raja. Salah seorang keturunan Raja Sosiar Mangula Damanik dari Sihilon, Bapak Kadim Morgan Damanik Tomok menjelaskan, asal kata “Tomok” itu tidak ada kaitannya dengan kampung Tomok di Samosir. Kata “Tomok” itu berasal dari nama leluhur mereka yang bernama Si Tomok, karena perawakan tubuhnya yang gemuk dan agak pendek yang dalam bahasa Simalungun disebut “tomok angkulani”. Di Dolog Malela di mana Damanik Tomok menjadi partuanan, masih terdapat batu keramat yang disebut Batu Tomok. Jadi jelasnya, Damanik Tomok itu bukan berketurunan dari marga Damanik Raja dari Negeri Tomok Samosir, tetapi dari keturunan raja Nagur juga bermarga Damanik.

Menjelang pecahnya Perang Rondahaim (1887-1891), Kerajaan Bornou ini lebih dikenal orang dengan nama Kerajaan Raja Na Takkang dan sesudah tentara Kerajaan Raya berundur dari tepi Laut Tawar berobah namanya menjadi Tambun Raya mengingat nama leluhurnya dahulu itu Timor Raya Damanik.

Sejarah selanjutnya Kerajaan Bornou ini mempunyai tiga orang putera masing-masing bernama Raja Sosiar Mangula dan Raja Na Takkang dan anak ketiga anak adopsi bernama Lumban Sambo. Dan menurut Bapak Kadim Morgan Damanik, anak adopsi ini ditemukan ayahnya Raja Timor Raya “marsambo-sambo” (bermain-main air dengan memakai tangan) di tepi Danau Toba yang oleh karenanya diberi nama Lumban Sambo. Beberapa tahun kemudian, dua orang putera Raja Sosiar Mangula pergi ke seberang Laut Tawar dan sampai di sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Samosir. Di pulau ini, putera sulung Raja Sosiar Mangula yang bergelar Si Bolon Pinggol (Si Telinga Besar) menurut sebutan orang Samosir berputera seorang yang diberinya nama Damanik Raja, oleh orang Samosir disebutnya Manik Raja, mereka inilah yang menyesuaikan dirinya dengan perkumpulan Guru Tatea Bula. Putera bungsu menyeberang ke Tongging dan terus ke Dairi dan menurunkan marga Manik di Dairi dan Singkel. Jadi ada dua keturunan marga Damanik dari Raja Sosiar Mangula di luar daerah kekuasaanya Kerajaan Bornou: marga Manik Raja di Samosir dan Manik di Dairi/Singkel.

Turunan Damanik dari Kerajaan Bornou ini yang banyak berkembang sebelum berdirinya Kerajaan Siantar pada abad ke-15 yang menjadi partuanan-partuanan di Simalungun kurang mendapat tempat dalam pemikiran-pemikiran para penulis mengenai keberadaan marga Damanik Tomok; seolah-olah ada jurang pemisah antara marga :

Damanik Bariba keturunan Marah Silau
Damanik Nagur keturunan Soro Tilu
Damanik Tomok keturunan Timo Raya (Timur Raya)

Padahal di antara ketiga Damanik ini masih satu leluhur dari Nagur Pulau Pandan yang berpisah waktu serangan India awal abad ke-11 dahulu kala itu, sehingga pada masa sekarang ini dalam urusan paradaton memasuki grup marga Tatea Bulan yaitu tarombo Toba, Humbang dan Samosir atau disebabkan dua hal :

Bisa terkucil di satu tempat.
Mengharapkan sesuatu yaitu berupa “rombongan/odoran” dalam pesta yang mengharuskan adanya “odoran” atau rombongan.

Seperti disebutkan di atas bahwa jalan masuk ke Danau Laut Tawar dari Selat Malaka yang terbaik dan termudah adalah dari dataran tinggi Simarjarunjung dan Dolog Sijambak Bahir. Begitu juga dari Tapanuli atau Samosir, jalan yang terbaik ke Sumatera Timur adalah melalui dataran tinggi di antara gunung-gunung tersebut. Itu sebabnya orang Belanda dan penginjil-penginjil dari Toba menyebut penduduk antara Gunung Dolog Simanuk-manuk dan sekitar Dolog Simbolon dari Laut Tawar sampai ke Selat Malaka mereka menyebutnya Batak Timur, karena letak di sebelah timur Tapanuli (Tanah Batak).

Walaupun demikian, di kemudian hari, orang-orang Toba dan Samosir beralih memakai jalan dari Tigaras-Dolog Saribu-Pamatang Raya. Seperti diketahui, bahwa jalan besar Parapat, Pamatang Siantar dibuka tahun 1910 Masehi; dengan demikian mengalirlah orang dari Toba, Humbang, Tarutung ke Sumatera Timur membuka persawahan atas undangan, dukungan dan perlindungan dari pemerintah Kolonial Belanda dan zending Jerman (RMG), bekerja di perkebunan (onderneming) Sumatera Timur.

Dengan mengalirnya orang-orang Batak Toba dari Tapanuli ke Timur (Simalungun) maka masuk juga datu-datu (Parhudamdam, Golongan Si Radja Batak, Parmalim), partarombo-partarombo (Raja Patik Tampubolon) dan penginjil-penginjil, sehingga sebagian besar masyarakat Simalungun (yang tidak mengetahui lagi sejarah nenek moyangnya) manut saja pada uraian mereka dan akhirnya “tenggelam” dalam silsilah mereka, sebagai contoh :

Damanik di Simalungun itu seperti Oppung Partiga-tiga Sihapunjung pendiri Kerajaan Siantar (abad ke-15) Masehi adalah berasal dari marga Manurung, tetapi sesudah menjadi raja Siantar I Oppung itu memakai marga Manik (tulisan yang tendesius dan mengada-ada).
Ia Si Ambarita Raja ninna na umpompar marga Manik na di Simalungun dohot na di luat Ambarita, asa sian Ambarita di marserak pinomparna tu Sipolha dohot Sidamanik Simalungun. Artinya : Ambarita Raja katanya inilah keturunannya marga Manik di Simalungun dan di sekitar Ambarita yang berserak keturunannya ke Sipoha dan Sidamanik Simalungun (baca : Pustaha Batak karangan W.M. Hutagalung terbitan tahun 1926 hal. 193. Soal Manik yang menjadi raja Siantar dan hal. 60 soal Si Ambarita keturunannya marga Manik di Simalungun. Begitu juga tulisan M.A.S. Pasaribu dalam bukunya Si Radja Batak Radja Dunia terbitan tahun 1956 bahwa adik Pasaribu ada yang marganya Sidamanik; sedangkan sepanjang sejarah Damanik dari zaman Kerajaan Nagur abad ke-5 Masehi, tidak pernah ada marga Sidamanik; yang ada Kerajaan Sidamanik yang berakhir setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945).

Kemungkinan besar penulis-penulis Batak Toba ini tidak pernah mengetahui adanya kerajaan di Simalungun, yaitu Kerajaan Nagur yang menjadi leluhur Damanik dan beberapa kerajaan Damanik di bekas wilayah Kerajaan Nagur dahulu itu, sampai datangnya Belanda awal abad ke-20 Masehi sampai alam kemerdekaan. Seperti kita ketahui, bahwa penulisan buku Tarombo ni Bango Batak yang pertama ditulis dan diterbitkan adalah Pustaha Batak dohot Turi-turian ni Bangso Batak oleh W.M. Hutagalung (demang di Samosir) terbitan Januari 1926 di Pangururan.

Banyak sudah penulis-penulis dari saudara-saudara kita dari luar daerah Simalungun ini menulis marga Damanik seperti: W.M. Hutagalung dan M.A.S. Pasaribu tersebut; juga dari suku Simalungun sendiri seperti almarhum Djahutar Damanik dalam bukunya Hukum Adat Simalungun yang hemat penulis banyak yang dilupakan dalam tulisan tersebut mengenai marga dan kerajaan-kerajaan marga Damanik dari Tanjung Tiram Batubara dari Selat Malaka sampai ke Laut Tawar (Danau Toba) mengikuti jalur sungai Bah Bolon.

Dan kerajaan Damanik itu berdiri dalam kesatuan Kerajaan Siantar sampai Proklamasi 17 Agustus 1945 seperti Kerajaan Bandar yang daerahnya sampai ke Tanjung Tiram dan Tanjung Balai. Kerajaan Siantar di Pulou Holang Pamatang Siantar sekarang. Kerajaan Jumorlang menjadi Partuanon Jorlang Huluan. Kerajaan Manik Hasian menjadi Partuanon Simanjoloi dan Raja Bornou atau Raja Na Takkang menjadi partuanon Tuan Tambun Raya Banggal atau Tuan Tambun Raya Agung sampai datangnya Belanda di akhir abad ke-19.

Kerajaan Sidamanik dan Kerajaan Sipolha tidak berubah namanya dan semua kerajaan Damanik bubar sesudah berdirinya “kerajaan” kita yang lebih besar yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan kerajaan dinasti Damanik zaman dulu itu tinggal menjadi sejarah bagi keturunannya supaya mengetahui dari mana asal-usulnya.

Banyak orang sampai hari ini mempertahankan bahwa leluhurnya berasal dari langit dan turun di atas sebuah gunung lalu turun ke bawah atau ke tanah dataran dan berkembang menjadi marga-marga. Masih banyak yang lebih yakin dengan mitos ketimbang historis (sejarah).

Bagaimanapun kita sebagai manusia yang pernah membaca sejarah dunia bahwa manusia biasanya mendarat di pantai-pantai pulau dan benua serta berkembang ke arah pegunungan tidak pernah ada manusia dari pegunungan turun ke pantai.

Di atas telah disebut satu contoh Zapet atau Aria mendarat di pegunungan Kaukasus di Timur Laut Hitam dan turunan mereka disebut Kaukasoid, kelak menjadi leluhur bangsa Iran (Aria), dan Aria Warta atau Hindustan di Jazirah Asia Selatan yang lazim disebut India. Dari sebuah kerajaan kecil yang bernama Nagore seorang bangsawan Hindustan dengan rakyatnya menyeberang ke Semenanjung Malaya dan berasimilasi dengan ras Melayu dan turunnanya kelak menyeberang ke pantai Sumatera Timur akhir abad ke-5 Masehi. Oleh pengikutnya digelar Datuk Bermanik-manik dan sampai di tempat bernama Batubara dan mengikuti jalur sungai Bah Bolon sampai di suatu tempat yang bernama Pulau Pandan dan mendirikan permukiman atau “pamatang” (benteng pertahanan) yang kelak menjadi ibukota Kerajaan Nagur dahulu kala itu dari abad ke-5 Masehi sampai abad ke-10 Masehi. Sekarang lebih dikenal dengan nama Kramat Suci atau Kubah Pardagangan yang terletak di Kabupaten Simalungun-Sumatera Utara sekarang.

Banyak sudah naskah-naskah tulisan mengenai marga Damanik di antaranya tulisan :

Pendeta Juandaha Raya Purba menulis, bahwa memang benar bahwa marga Damanik adalah marga asli dan tertua di Simalungun; tetapi seolah-olah datangnya leluhur Damanik tidak tahu dari mana dan perkembangan marga Damanik itu sampai datangnya Belanda ke Sumatera Timur pertengahan abad ke-18 Masehi tidak diterangkan oleh Pendeta Purba tersebut.
Keterangan Abang Mr Djariman Damanik bahwa Damanik Bariba, Damanik Hajangan, Damanik Tomok, Damanik Simaringga, Damanik Nagur dan lain-lain berasal dari Nagur; tetapi hanya di sini keterangan Abang Mr Djariaman Damanik tersebut, tidak diterangkan bagaimana perkembangan marga Damanik itu mulai dari Nagur Pulau Pandan Pardagangan tahun 1000 Masehi berkembang ke arah barat ke dataran tinggi Danau Toba dan berdirinya kerajaan-kerajaan dinasti Damanik dan partuanon-partuanonnya, mulai dari Selat Malaka sampai ke Laut Tawar (Danau Toba). Tetapi saya penulis naskah ini merasa kagum dan bangga terhadap Abang Mr Djariaman Damanik, tokoh marga Damanik sekaligus sesepuh suku Simalungun yang dari dulunya menyatakan dengan tegas bahwa Oppung Partiga-tiga Sihapunjung bukan berasal dari marga Manik dari Sianjurmula-mula pusat negeri Toba tetapi dari Nagur. Oppung Partiga-tiga Sihapunjung Damanik adalah pendiri Kerajaan Siantar di awal abad ke-15 Masehi.
Mengikuti tulisan Jalatua Hasugian dalam Harian Pos Metro Siantar terbitan Minggu 09 Mei 2004 dengan judul “171 Tahun Kabupaten Simalungun” sangat membingungkan, sebab nama Simalungun baru ada sesudah Belanda membentuk Onderafdeeling Simalungun en Karolanden tahun 1906 dan kalau kita kembali pada waktu Kerajaan Nagur tidak berkuasa lagi dari Gunung Simanuk-manuk dan sekeliling Gunung Simbolon dari Tanjung Tiram Selat Malaka sampai ke Laut Tawar Danau Toba telah berdiri Kerajaan Damanik, Sinaga, Purba dan Saragih atau Raya. Awal abad ke-14 penduduk daerah itu memakai nama daerahnya masing-masing Damanik dan rakyatnya memakai atau menyebut dirinya orang Siantar. Begitu juga Purba dan rakyatnya menyebutnya sini Purba dan orang Raya menyebutnya sin Raya, sehingga terkenal di Simalungun pantun (umpasa) yang berbunyi: “Sin Raya, Sini Purba, Sin Dolog Sini Panei; Naija pe lang na mubah, asal ma na marholong ni atei!”[2]

Sesudah penandatanganan Korte Verklaring tahun 1907 sistem pemerintahan di kerajaan yang tujuh (baca: Simalungun) sudah berubah dari kerajaan yang berdiri sendiri menjadi swapraja yang disebut “landschap” yang berada dalam Onderafdeeling Simelungun di bawah pemerintahan Controleur (pengawas) Hindia Belanda. Hal ini diketahui dari buku Sejarah Simalungun tulisan Kenan Purba halaman 60.

Itu sebabnya di bekas Kerajaan Nagur dahulu kala itu (baca: Simalungun) ada istilah : Par Siattar, Parsini Panei, Parsin Raya, Parsini Purba, biasa disingkat muda-mudi zaman dulu dengan sebutan Siattar, Sini Panei, Sin Raya, Sini Purba. Jadi kalau mengikuti istilah Jalatua Hasugian seperti tersebut di atas bahwa Kabupaten Simalungun sudah 171 tahun betul-betul tidak bisa diterima akal sehat, sama dengan mitos yang mengatakan bahwa Allah menurunkan manusia di atas satu gunung dan turun ke bawah ke tanah dataran untuk selanjutnya menurunkan marga-marga. Sebab apa yang disebut Kabupaten Simalungun baru ada bulan September 1946 dan beribukota di Pamatang Siantar dan bupatinya yang pertama ialah Tuan Madja Purba salah seorang turunan Raja Napitu, tetapi mengenai marga Damanik pendiri Kerajaan Nagur di Pulau Pandan abad ke-6 dekat Pardagangan sekarang menurut Jalatua Hasugian ada benarnya, tetapi Jalatua tidak menerangkan dari mana asalnya Damanik pendiri Kerajaan Nagur tersebut.

Mengikuti jalannya tulisan Jalatua Hasugian tersebut di atas bahwa marga Damanik pendiri Kerajaan Nagur di Sumatera Timur sudah ada tahun 600 Masehi pasti timbul pertanyaan dalam hati kita: daerah mana di Sumatera Utara ini yang lebih dahulu ada penduduknya? Sianjur mula-mula di kaki Gunung Pusuk Buhit pusat Negeri Toba atau di Nagur (baca: Simalungun). Jadi tahun berapakah manusia pertama ada di Sianjurmula-mula di kaki Gunung Pusuk Buhit itu ? Satu persoalan yang penting untuk diketahui generasi penerus.

Selanjutnya kita mengikuti tulisan Batara Sangti Simanjuntak dalam bukunya berjudul Sejarah Batak yang mengatakan bahwa Si Raja Batak di Tanah Batak baru ada pada tahun 1305 Masehi atau awal abad ke-14 Masehi. Begitu juga tulisan Kondar Situmorang dalam Harian Sinar Indonesia Baru terbitan tanggal 26 September 1987 dan tanggal 03 Oktober 1987 serta tanggal 24 Oktober 1987 dengan judul “Menapak Sejarah Batak” yang mengatakan bahwa Si Raja Batak baru ada pada tahun 1475 Masehi. Kedua orang ini adalah penulis kondang dari suku Batak Toba, tetapi yang manakah keterangan mereka ini yang benar?

Jika dihubungkan dengan keterangan dari orang Toba dan Samosir, bahwa mereka sampai sekarang ini sudah ada 18 atau 20 generasi atau lebih kurang sama dengan 500 tahun, sebab setiap 100 tahun lahir 4 generasi. Sebagai contoh: Bapak-Anak-Cucu-Cicit.

Sebagai contoh yang paling dekat seperti :

Bapak Tuan Ramahadin Damanik Tuan Raja Sidamanik, anaknya Tuan Djorhatim Damanik, cucunya Tuan Sorimala Damanik (Sordam), cicitnya Tuan Mamman Damanik, SE. Tahun yang dijalani mereka ialah dari tahun 1900-2000 Masehi. Jadi dalam 100 tahun ada empat kali kelahiran manusia atau lazim disebut 4 generasi.

Jika dihubungkan dengan sejarah Nusantara, bahwa daerah Barus dan daerah pantai Samudera Hindia sebelah barat Pulau Sumatera adalah jajahan dari Kerajaan Sriwijaya dari Palembang, tetapi dengan kehancurannya Kerajaan Sriwijaya oleh Kerajaan Madjapahit tahun 1337 Masehi, maka orang-orang dari Barus berpindah ke arah pegunungan sekitar Danau Toba sampai ke pantai Danau Toba di kaki Gunung Pusuk Buhit dan mereka menyebut tempat itu dengan nama Sianjurmula-mula dan mengikut juga istilah Hindu kepada orang Barus itu seperti kata Dewata menjadi Debata, istilah Satia Ulan menjadi Tatea Bulan; mungkin juga istilah Sriwijaya menjadi Saribu Raja atau Sorimangaraja.

Kalau diperhatikan perjalanan sejarah Nusantara, di antara dua tulisan dari penulis kondang tersebut antara Batara Sangti Simanjuntak dengan Kondar Situmorang dapat ditarik kesimpulan bahwa tulisan Kondar Situmorang mendekati fakta sejarah.



Catatan :

1. Batara Sangti menulis Si Raja Batak ada tahun 1305 Masehi.

2. Kondar Situmorang menulis Si Raja Batak baru ada 1475 Masehi.

Si Raja Batak inilah kelak menjadi leluhur dari Suku Batak Toba, yaitu: Toba, Humbang, Samosir dan Silindung. Si Raja Batak mempunyai dua orang anak, yaitu Guru Tatea Bulan dan Sumba. Dari Guru Tatea Bulan inilah asalnya Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja.

Dari Silau Raja ini asalnya : Malau Raja

Manik Raja

Gurning Raja

Ambarita Raja

Mengikuti jalur generasi di atas mulai dari Si Raja Batak-Guru Tatea Bulan-Silau Raja-Manik Raja memakan waktu 100 tahun, berarti Manik Raja baru ada tahun 1600 Masehi dan kalau dihubungkan dengan pengakuan saudara-saudara kita dari Toba atau Samosir bahwa mereka baru ada 17 atau 18 generasi sampai tahun 2000 ini.

Sampai di sini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia di Samosir baru ada kira-kira 500 tahun yang silam saat tulisan ini diterbitkan.

Alasannya :

Si Raja Batak baru ada akhir abad ke-15 Masehi menurut Kondar Situmorang.
Sampai abad ke-21 ini orang dari Toba dan Samosir baru ada 17 atau 18 generasi.

Sedangkan di Simalungun (baca: Nagur) menurut Jalatua Hasugian (bukan penulis dari suku Simalungun) bahwa manusia pendiri Kerajaan Nagur sudah ada sejak abad ke-6 Masehi. Jadi dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia yang lebih dahulu ada di Simalungun 1400 tahun yan silam saat tulisan ini diterbitkan.

Satu hal yang memperkuat tulisan Jalatua Hasugian tersebut di atas bila disesuaikan dengan tulisan Sutan Martua Radja Siregar bahwa di abad ke-6 Masehi telah ada satu kerajaan yang beribukota di tepi Sungai Bah Bolon dekat kota Pardagangan sekarang bernama Kerajaan Nagur. Di mana rajanya bermarga Damanik. Berdasarkan data-data dan keterangan di atas bahwa marga Damanik bukan berasal dari marga Manik Raja dari Samosir tetapi berasal dari Nagur. Juga sejarah membuktikan yang terjadi di Simalungun semua orang dari Samosir seperti kelompok Parna abad XVII-XIX yang datang ke daerah kerajaan-kerajaan Simalungun semuanya memasuki marga Saragih.

Begitu juga yang terjadi di Kerajaan Siantar di zaman sebelum Belanda yang menyatakan dirinya turunan Silau Raja, seperti :

Gurning : jabatan Tuan Bonani Ari Partuanon Sipolha memakai marga Damanik.
Ambarita: jabatan tuan Ambarita di Kerajaan Sidamanik memakai marga Damanik.
Malau: jabatan jagoraha atau panglima perang Kerajaan Sinaman di Panei menjadi marga Damanik.
Sagala: jabatan jagoraha atau panglima Kerajaan Sidamanik memakai marga Damanik.

Baru sesudah Belanda menguasai kerajaan-kerajaan yang ada di Simalungun awal abad ke-20 Masehi dan dibukanya jalan raya dari Balige ke Pamatang Siantar melalui Parapat tahun 1910 serta masuknya pendatang Batak Toba ke Simalungun, berangsur-angsur marga-marga tersebut di atas kembali lagi ke marga asalnya.

Kalau kita perhatikan data-data dari penulis-penulis Batak Toba seperti :

Sutan Martua Radja Siregar yang menyatakan bahwa sudah ada marga Damanik menjadi raja di Kerajaan Nagur, kelak di kemudian hari disebut Simalungun pada abad ke-6 Masehi.
Jalatua Hasugian dalam tulisannya menyatakan bahwa sudah ada marga Damanik menjadi raja di Simalungun (baca: Nagur) abad ke-6 Masehi.
Tulisan Batara Sangti Simanjuntak bahwa Si Raja Batak baru ada tahun 1305 Masehi.
Tulisan Kondar Situmorang bahwa Si Raja Batak baru ada tahun 1475 Masehi dan Si Raja Batak inilah yang menjadi leluhur Suku Batak Toba.
Saat tulisan ini diterbitkan bahwa manusia di Samosir mengakui masih berkisar 16 sampai dengan 18 generasi, kalau diperhitungkan baru ada 400 atau 500 tahun manusia berada di Sianjurmula-mula di kaki Gunung Pusuk Buhit sesuai dengan tulisan Kondar Situmorang di atas.
Sejarah Nusantara menerangkan bahwa Barus dan pantai barat Pulau Sumatera adalah daerah Sriwijaya dari Palembang, tetapi sesudah Sriwijaya dihancurkan oleh Kerajaan Majapahit tahun 1337 Masehi, kemungkinan orang-orang dari Barus itu naik ke pegunungan di sekitar Danau Toba dan bermukim di suatu tempat yang subur dan disebut Sianjurmula-mula dan seratus tahun kemudian menyebut dirinya bangsa Batak dan terciptalah Si Raja Batak sebagai leluhur mereka.

Kalau diperhatikan fakta sejarah maka tulisan Kondar Situmorang tersebut di atas agak mendekati kebenaran fakta sejarah, mengenai kapan manusia mulai berada di Sianjurmula-mula di kaki Gunung Pusuk Buhit.

Si Raja Batak inilah menurut orang Batak Toba menjadi leluhur mereka seperti berikut ini :

Sesuai dengan fakta-fakta sejarah tersebut di atas, apa bisa diterima akal sehat bahwa marga Damanik di Simalungun turunan Nagur dahulu kala itu oleh orang Batak Toba mengatakan bahwa Damanik di Simalungun itu berasal dari marga Manik dari Samosir? Sejarah membuktikan bagaimana perkembangan kerajaan-kerajaan marga Damanik sejak tahun 1200 Masehi di Simalungun sejak dari Nagur Pulau Pandan Pardagangan sampai ke Laut Tawar (Danau Toba mengikuti jalur sungai Bah Bolon yang berasal dari antara dua gunung yaitu Gunung Sijambak Bahir an Gunung Simarjarunjung di pantai sebelah timur Laut Tawar (Danau Toba).

Masalah silsilah atau tarombo mereka (suku Batak Toba) bagi penulis tidak jadi masalah sebab sudah menjadi keyakinan mereka, begitulah asal-usulnya. Tetapi penulis tidak dapat menerima jika mereka mengatakan bahwa Damanik salah satu marga asli tertua di Simalungun berasal dari apa yang disebut kelompok Tatea Bulan. Sebab menurut fakta sejarah tersebut di atas bahwa perbedaan adanya manusia Nagur (baca: Simalungun) dan Sianjurmula-mula (baca: Samosir) sangat jauh, seperti berikut : di Nagur (baca: Simalungun) manusia atau kerajaan sudah ada pada tahun 600 Masehi, yaitu Kerajaan Nagur bermarga Damanik, sedangkan di kaki Gunung Sianjurmula-mula menurut penulis tersebut baru ada pada awal abad ke-16 atau tahun 1500 Masehi. Di atas telah diterangkan orang yang mengaku turunan Raja Naiambaton (PARNA) datang ke daerah kerajaan Raja Maroppat di Simalungun sebelum masuknya Belanda di akhir abad ke-19 yang memasuki marga Saragih.

Begitu juga orang yang menyebut dirinya turunan marga Silau Raja yang datang ke daerah kerajaan marga Damanik di Simalungun memasuki marga Damanik; hal ini terjadi dalam abad XVII-XIX, termasuk di dalamnya marga Sagala yang menjadi rajagoraha atau panglima perang Kerajaan Sidamanik sebelum masuknya Belanda memasuki marga Damanik.

Begitu juga soal seni musik, musik khas Samosir zaman dulu itu disebut Gondang Hasapi, tetapi pendatang dari Samosir itu larut dalam seni musik Simalungun asli yang disebut “Gual Arbab”, salah satu seni musik Simalungun asli dan unik. Mereka tidak membawa Gondang Hasapi-nya zaman dulu ke Simalungun, karena mereka sudah menemukan manusia di Simalungun dengan irama dan adatnya, sehingga mereka secara praktis menyebut dirinya orang Simalungun.

Lain halnya dengan orang luar Simalungun yang datang ke Simalungun sesudah berkuasanya Belanda akhir abad ke-19 terhadap raja-raja di kerajaan raja-raja na pitu di Simalungun, mereka tidak mengubah marganya lagi. Sebagai contoh: kelompok marga Tatea Bulan ini masih satu leluhur dengan marga Manik di Samosir dan oleh karena sebutan Manik inilah menurut pengakuan mereka bahwa marga Damanik ini satu leluhur dengan mereka, sebab Manik adalah anak Silau Raja dan Silau Raja adalah anak Guru Tatea Bulan dan Tatea Bulan adalah anak Si Raja Batak, yaitu atas pengakuan mereka adalah leluhur suku Batak Toba (Toba, Humbang Samosir dan Silindung).

Sejak awal abad ke-20 dengan berkuasanya Belanda di Simalungun dari berbagai suku di sekitar Simalungun dan oleh Belanda pendatang-pendatang itu dibeking Belanda dengan memberikan kedudukan penting di pemerintahan dan di onderneming (perkebunan) milik bangsa Eropa, mulailah peradaban suku Simalungun goyah oleh budaya pendatang. Di samping itu mereka giat mempropagandakan sejarah marga-marga bahwa marga Damanik di Simalungun asalnya adalah dari marga Manik Raja dari Samosir.

Terlebih dengan meledaknya apa yang disebut Revolusi Sosial di Simalungun pada 3 Maret 1946 atau setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI yang menghancurkan sendi-sendi peradaban Simalungun, maka sebagian besar rakyat Simalungun terutama marga Damanik yang tidak pernah mempelajari asal-usul marganya bergabung dengan apa yang disebut kelompok Guru Tatea Bulan (Silau Raja). Maksud penulis bukan mau memisahkan marga Damanik dengan marga Manik yang berasal dari Samosir, sebab istilah Manik ini juga ada di Karo (Ginting Manik), di Dairi (Manik Sikettang), Jawa (Djohar Manik) dan Sumatera Barat (Sumanik). Apa hubungannya dengan istilah gelar Datuk Parmanik-manik dari Malaya 1500 tahun lalu?

Masalah marga Damanik ini perlu dibuka sejarah yang menggelapinya selama ini, sebab menurut Pustaha Batak tulisan W.M. Hutagalung halaman 60 dan halaman 193. soal Manik di Simalungun sangat tidak masuk akal atau boleh dikatakan menggelikan bagi orang yang pernah membaca sejarah.

Sepengetahuan kita bahwa Pustaha Batak tulisan W.M. Hutagalung inilah buku yang pertama dibuat atau diterbitkan di zaman Belanda tahun 1926. Sebagai seorang cerdik pandai dan berpredikat sebagai seorang intelektual pada zamannya, rupanya hanya mendengar masalah Damanik di Simalungun itu dari “panggallung-pangallung” atau “datu-datu” serta “partarombo-partarombo” yang pulang dari Simlaungun, yaitu orang yang tidak mengetahui bagaimana raja-raja Damanik dihormati dan diagungkan oleh rakyatnya, sehingga digelari rakyatnya dengan sebutan “tuhanta” atau “partongah”. Jadi sangat disayangkan tulisan W.M. Hutagalung dalam halaman 60 dan halaman 193 dalam Pusataha Batak terbitan tahun 1926 Masehi mengenai marga Damanik pendiri Kerajaan Siantar abad ke-14 Masehi, yaitu Oppung partiga-tiga Sihapunjung, tapi W.M. Hutagalung menyebutnya Partiga-tiga Sipunjung. Entah dari mana didapat beliau nama Partiga-tiga Sipunjung ini.

Sesuai dengan pengumpulan data-data sejarah mengenai akhir atau lenyapnya Kerajaan Nagur Pulau Pandan dari keterangan orang-orangtua zaman dulu bahwa penerus Kerajaan Nagur Pulau Pandan diketahui namanya Si Pakpak Mularaja dan dari Si Pakpak Mularaja inilah muncul keturunannya menjadi raja marga Damanik di bekas Kerajaan Nagur dahulu kala seperti ditulis di atas.

Memang dalam tulisan ini penulis tidak mencantumkan sejarah secara menyeluruh semenjak serangan India ke Nagur Pulau Pandan tahun 1025 Masehi yang penulis utamakan adalah perkembangan manusia yang keluar dari Pulau Pandan dahulu kala itu yang dipimpin oleh tiga orang pangeran masing-masing :



1. Marah Silau Damanik

Dan Marah Silau inilah kelak leluhur marga Damanik Bariba.

2. Soro Tilu Damanik

Soro Tilu kelak menjadi leluhur Damanik Nagur. Salah seorang turunan Soro Tilu ini bernama Malikul Saleh mendirikan Kerajaan Samudera Pasai tahun 1200 Masehi di pesisir Aceh bagian timur Selat Malaka.

3. Timo Raya Damanik

Timo Raya denan rakyatnya bergerak ke arah barat dari Pulau Pandan dan sampai di tepi Laut Tawar (Danau Toba) dan memilih satu tempat yang disebut Si Bona-bona dekat Tuktuk Silumonggur (Tanjung Unta sekarang) dan kelak keturunannya disebut Damanik Tomok hingga sekarang.

Dari hasil pengumpulan data-data sejarah mengenai marga Damanik ini di Simalungun bahwa keturunan Damanik dari Nagur ini ada tiga bagian, yaitu :

I. Keturunan Marah Silau yaitu kerajaan :

Manik Hasian
Jumorlang
Siattar
Sipoha
Sidamanik
Bandar

Dan berpuluh-puluh partuanonnya memakai marga Damanik Bariba, tetapi umumnya disebut Damanik.



II. Keturunan Soro Tilu mendirikan Kerajaan Nagur di sebelah timur Gunung Simbolon dengan nama Kerajaan Nagur Bayu dengan memakai marga :

Damanik Nagur
Damanik Rih
Damanik Rappogos
Damanik Malayu
Damanik Sola
Damanik Sarasan
Damanik Hajangan
Damanik Simaringga
Damanik Usang
Damanik Bayu
Dan lain-lain.

Keturunan Soro Tilu ini menguasai daerah Raya, Raya Kahean sampai ke tepi laut Selat Malaka (Padang-Badagei), tetapi tetap memakai marga Damanik, tidak menonjolkan cabang-cabang marga. Inilah keistimewaan Damanik dari marga Simalungun yang tiga lainnya (Sinaga, Saragih dan Purba).



III. Keturunan Timo Raya yang disebut Damanik Tomok dan berpuluh-puluh partuanonnya pada zaman dahulu tetap memakai marga Damanik. Tuan Dolog Malela adalah bermarga Damanik Tomok dan masih terdapat batu keramat Batu Tomok di sana. Tetapi dengan datangnya Belanda dari luar Simalungun dan mereka melihat dan mengetahui bahwa di antara partuanon-partuanon Damanik ini banyak memiliki perselisihan sesama abang beradik masalah tahta kerajaan; maka di antara yang kurang puas didekati oleh mereka dan mempropagandakan bahwa yang kurang puas tadi adalah bukan satu leluhur dengan mereka, sehingga alhasil turunan ketiga pangeran Nagur dari awal abad ke-11 dahulu kala itu seolah-olah terpisah satu sama lain. Sebagai contoh ada yang mengatakan bahwa leluhurnya turun dari langit, ada yang mengatakan ASAL MA DAMANIK. Maksud penulis dalam hal ini yaitu untuk mengembalikan kesatuan marga Damanik dari satu leluhur Datu Parmanik-manik atau adakah hubungannya dengan Darmani atau buah horu di Simalungun sekarang yang biasa dipakai orang Simalungun dalam upacara-upacara tertentu? Dan bukankah motto keluarga besar Damanik: “ULANG MARSIPAETEK-ETEKAN NA MARSANINA?”

Keturunan Datu Parmanik-manik inilah yang mendirikan Kerajaan Nagur di Pulau Pandan abad ke-6 dekat Kota Pardagangan sekarang dan dari kata Datuk Parmanik-manik inilah istilah Djahutar Damanik (alm) dipendekkan orang penyebutannya menjadi panggilan atau marga DAMANIK.

Tiga keturunan marga Damanik seperti yang diterangkan di atas atau tiga Damanik bersaudara ini sejak awal abad ke-20 Masehi, seolah-olah terpisah satu sama lain oleh pengaruh tarombo-tarombo dari luar, terutama dari pendatang Batak Toba dari Samosir yang mengatakan Damanik di Simalungun ini adalah pecahan dari marga Manik dari Samosir, padahal mereka tidak sadar bahwa mereka yang menyebut dirinya turunan Silau Raja, seperti :

Marga Gurning jabatan Tuan Bonaniari di zaman Kerajaan Sipoha sebelum masuknya Belanda memakai marga Damanik Gurning.
Marga Sagala, jabatan Jagoraha (panglima perang) Kerajaan Sidamanik sebelum zaman Belanda memakai marga Damanik Sagala.
Marga Malau, jabatan Jagoraha (panglima perang) partuanan Sinaman Kerajaan Panei sebelum zaman Belanda memakai marga Damanik Malau.

Melihat perkembangan soal marga-marga tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa sudah lebih dahulu ada marga Damanik di Simalungun, terbukti dengan datangnya marga-marga kelompok Guru Tatea Bulan dan Silau Raja dari Samosir memasuki marga Damanik di daerah kekuasaan “raja maroppat” Simalungun.

Mengenai siapa yang lebih dulu marga Manik di Samosir atau marga Damanik di Simalungun kita harus membuka tulisan-tulisan para peneliti sejarah mengenai keberadaan manusia di sekitar Danau Toba sseperti tulisan :

Batara Sangti menulis dalam harian Sinar Indonesia Baru bahwa Si Raja Batak baru ada tahun 1305 Masehi.
Kondar Situmorang dalam harian yang sama mengatakan bahwa Si Raja Batak baru ada tahun 1475 Masehi.
Sutan Martua Radja Siregar dan Jalatua Hasugian mengatakan bahwa Kerajaan Nagur sudah ada abad ke-5 yang meliputi daerah sebelah timur Danau Toba atau dari Tongging sampai Parapat (Sipiak) dan sampai ke Selat Malaka dan rajanya yang memerintah adalah bermarga Damanik.



UNTUK BAHAN PEMIKIRAN

Banyak sudah pendapat para penulis sejarah mengenai marga Damanik ini, tetapi belum satupun yang dapat menjadi pegangan yang kokoh dan dapat diterima akal sehat, sebagai contoh :

Pernah terjadi dulu entah kapan di daerah Nagur (Simalungun) berkembang penyakit sampar sehingga orang-orang Nagur (Simalungun) mengungsi ke seberang Laut Tawar (Samosir). Sesudah penyakit sampar tidak ada lagi, maka keturunan orang yang mengungsi tadi kemabali ke Nagur (Simalungun). Daerah yang ditempati orang yang berbahasa Simalungun dulunya adalah dari Gunung Simanuk-manuk sebelah selatan; dari Danau Toba sampai Selat Malaka dan sekitar Gunung Simbolon sampai Medan sekarang. Apa semua penghuni daerah tersebut mengungsi ke Samosir ? Hal demikian menurut penulis adalah suatu hal yang dikarang-karang sebab tidak dikatakan kapan itu terjadi dan apa mungkin semua penduduk daerah tersebut mengungsi ke Samosir ?
Ada juga penadapat sebagian orang bahwa Si Manik dari Samosir itu berangkat ke seberang Laut Tawar dari Samosir, oleh kawannya dikatakan, “HU BARIBA MA HO DA MANIK?” (ke seberanglah kamu yang Da Manik), dan jadilah sebutannya Da-Manik sampai hari ini, tetapi Da-Manik yang mana yang dikatakan orang tersebut sampai hari ini tidak jelas. Sebab seperti tertulis di atas bahwa marga Sagala Raja, Malau Raja, Manik Raja, Gurning Raja, Ambarita Raja di daerah kekuasaan Raja Maroppat (Simaalungun) semuanya memasuki marga Damanik, mengikuti salah satu marga Raja Maroppat (Simalungun), walaupun di abad ke-20 banyak yang kembali ke marga induknya, tetapi masih ada yang memakai marga Damanik sampai sekarang. Di awal abad ke-20 atau jelasnya sesudah masuknya Belanda, pendatang-pendatang dari Toba, Humbang, Samosir, Silindung, Mandailing dan Sipirok (Tapsel), jika ianya bermarga Pasaribu, Lubis, Parapat, Malau, Limbong, Sagala, Manik, Gurning, Ambarita tidak lagi mengubah marganya menjadi Damanik, karena raja-raja Simalungun telah berkurang kekuasaannya karena sudah menjadi pegawai pemerintah Belanda dengan nama zelfbestuur yang memerintah landschap.

Sejak awal abad ke-20 silisilah tarombo yang dipakai di dalam acara paradaton di sebagian marga Damanik seolah-olah satu leluhur dari Guru Tatea Bulan atau kepada Silau Raja, sedang kenyataan sejarah bukan demikian sesuai dengan hasil penelitian para penulis-penulis yang saya sebutkan di atas, contohnya :

Manusia baru 500 tahun ada di Samosir. Batara Sangti Simanjuntak mengatakan Si Raja Batak baru ada pada tahun 1305.
Kondar Situmorang mengatakan Si Raja Batak baru ada tahun 1475.
Sutan Martua Radja Siregar mengatakan bahwa abad ke-6 Masehi sudah ada Kerajaan Nagur bermarga Damanik.
Jalatua Hasugian juga mengatakan bahwa sudah ada raja Nagur abad ke-6 Masehi bermarga Damanik.

Melihat kejadian sejarah tersebut di atas bagaimana perkembangan manusia di sekitar Laut Tawar (Danau Toba sekarang), manusia yang datang dari pantai Lautan Hindia menempati kaki Gunung Pusuk Buhit (Sianjurmula-mula) yaitu, asalnya Si Raja Batak, yakni leluhurnya suku Batak Toba (Toba, Humbang, Samosir dan Silindung) menurut Pustaha Batak dohot Turi-turian ni Bangso Batak karya W.M. Hutagalung tahun 1926.

Dan saudara-saudara kita yang datang dari Tapanuli dan Samosir umumnya yang mengatakan mereka turunan Guru Tatea Bulan dan Silau Raja adalah “mardongan tubu” (bersaudara) dengan marga Damanik di Simalungun, masih dapat kita terima; tetapi jika mereka mengatakan bahwa Damanik itu berasal dari mereka (Tatea Bulan dan Silau Raja), hasil penyelidikan sejarah membuktikan klaim mereka itu menyimpang dari fakta sejarah.

Saran kepada generasi muda Damanik untuk masa yang akan datang, supaya mengetahui asal-usul marganya sebagai jalan menunjukkan identitas kita sebagai turunan marga Damanik sejak adanya Kerajaan Nagur abad ke-6 Masehi di Nusantara ini kira-kira bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur dan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat menurut buku-buku sejarah nasional Indonesia.

Mengikuti isi tulisan Pdt. Juandaha Raya Purba dalan SKM Suara Simalungun yang mengatakan marga Damanik adalah marga tertua dan asli di Simalungun ada benarnya, tetapi Pendeta tersebut tidak melihat atau mengetahui bagaimana perkembangan kerajaan-kerajaan Damanik di jalur sungai Bah Bolon sejak Kerajaan Nagur Pulau Pandan Pardagangan sampai ke dataran tinggi timur Laut Tawar (Danau Toba) yakni daerah antara Gunung Dolog Simarjarunjung dan Gunung Dolog Sijambak Bahir bahwa sudah berdiri tiga kerajaan[3] marga Damanik abad ke-13 Masehi jauh sebelum berdirinya Kerajaan Siantar di abad ke-15 Masehi, yakni :

Kerajaan Manik Hasian
Kerajaan Jumorlang
Kerajaan Bornou di tepi Laut Tawar.

Berdirinya kerajaan yang tiga ini, penulis menyebutnya zaman kuno Simalungun dan orang-orang dari Toba dan Samosir sesudah datangnya Belanda atau zending Batak (dengan penginjil orang Toba) abad ke-19 mereka menyebut daerah ini Batak Timur Raya karena daerah ini adalah laluan yang terbaik menuju Selat Malaka dari Laut Tawar.

Seperti disebutkan di atas, pada zaman dulu daerah Simalungun adalah pintu masuk dari Tapanuli melalui Danau Toba ke Sumatera Timur (Simalungun). Pendatang dari Tapanuli itu pada masa jayanya kerajaan-kerajaan Simalungun di abad XVI-XIX menyesuaikan marganya dengan marga penguasa raja-raja Simalungun. Setelah Belanda masuk ke Simalungun, maka pada tahun 1906, daerah Simalungun secar resmi (de jure) di masukkan ke dalam wilayah kekuaaan Hindia Belanda dengan Staatblad No. 531 tanggal 12 Desember 1906 dengan nama Afdeeling Simeloengoen en Karolanden yang asisten residennya berkedudukan di Pamatang Siantar. Sejak itulah daerah Batak Timur ini resmi dinamakan daerah SIMALUNGUN.



Perihal Kerajaan Bornou (Tambun Raya Banggal)

Barangkali mengingat sejarah leluhur Timo Raya yang mendirikan Kerajaan Bornou di tepi Laut Tawar di zaman kuno Simalungun dan waktu berdirinya Kerajaan Sidamanik abad ke-17 oleh Raja Sidamanik, salah seorang putra raja Bornou (baca: Tambun Raya) diangkat menjadi punggawa kerajaan (harajaan) di Kerajaan Sidamanik dengan nama jabatan TUAN SIBORNOU.

Semua kerajaan-kerajaan kuno Simalungun ini kalau kita perhatikan peta dimulai dari Pardagangan sampai ke Laut Tawar (Danau Toba) menempati posisi di tepi Sungai Bah Bolon seperti: Pamatang Siantar, Naga Huta, Raja Riahan di tepi Sungai Bah Ilang cabang Sungai Bah Bolon yang terletak di Pamatang Jorlang Huluan (Jumorlang) mendekati Danau Toba terletak di Pamatang Sidamanik, Manik Hasian (Simanjoloi) dan Raya Manik. Hanya Sibona-bona atau Pamatang Huta Bolon Tambun Raya dan Pamatang Sipolha yang terletak di tanah “horisan” (di pinggir pantai Danau Toba). Akibat kehancuran yang ditimbulkan dalam sejarah Perang Rondahaim (Porang ni Raya) pertengahan (1888-1891), maka kerajaan-kerajaan Damanik di jalur sungai Bah Bolon dari Tanjung Tiram Selat Malaka sampai ke tepi Danau Toba di sebelah barat bersatu semuanya di dalam satu kerajaan bernama Kerajaan Siattar untuk menghadapi kepungan Belanda pada awal abad ke-20 yang datang dari tiga jurusan, yaitu: dari Selat Malaka dari timur, dari Deli (Bangun Purba) dari utara dan dari Siborong-borong (Tapanuli) di sebelah barat.

Sesudah Nusantara ini dibagi-bagi bangsa Eropa, hanya daerah Simalungun di awal abad ke-20 yang belum bisa ditaklukkan Belanda, karena perlawanan raja-raja marga Damanik ini, maka Belanda dengan berbagai cara dapat menangkap raja Siantar Tuan Sang Nawaluh Damanik dan membuangnya ke Pulau Bengkalis (Riau) dan karena tidak ada kemungkinan “menang” melawan Belanda maka di bawah pengganti Raja Sang Nawaluh (Tuan Ramahadim dan Tuan Torialam) maka semua partuanon dinasti Damanik, seperti : Sipolha, Tambun Raya, Simanjoloi, Jorlang Huluan, Sidamanik, Bandar, Dolog Malela dan lain-lain menandatangani perjanjian tunduk (Korte Verklaring) dengan Belanda pada tahun 1907. Kalau diperhatikan, maka daerah Batak Timur Raya (baca: Simalungun) hanya 38 tahun saja dijajah oleh bangsa asing (Belanda dan Jepang), sebab tahun 1945 kita sudah merdeka dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berikut ini adalah garis besar keturunan marga Damanik keturunan dari Datuk Ber-Manik-manik dari Nagore (India Selatan) yang masuk ke Sumatera Timur melalui Semenanjung Malaya pendiri Kerajaan Nagur abad ke-5 Masehi di Sumatera Timur dan nama Datuk Ber-Manik-manik ini oleh rakyat dan pengikutnya disebut DAMANIK sbb :

1. Marah Silau

Raja Parpandanan Na Bolag
Raja Sormaliat
Si Anas Bondailing
Pakpak Mularaja

Raja Manik Hasian

Raja Jumorlang

Raja Sipolha

Raja Sidamanik

Raja Siantar

Raja Bandar

Susunan kerajaan ini menunjukkan siapa yang sulung dan yang bungsu, umumnya memakai marga Damanik Bariba.



2. Soro Tilu

Nagur Bayu abad ke 11 di sebeleh timur gunung Simbolon. Keturunannya abad ke-12 Masehi bernama Malikul Saleh mendirikan Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-12. Raja terakhir dari Nagur Bayu bernama Anggaraim Nabolon, keturunannya memakai marga Damanik Nagur Sola (Chola), Rapppogos, Rih, Hajangan, Simaringga, Bayu, Sarasan, Malayu. Raja Nagur memerintah dari istana di dolok simarsolpah, kemudian setelah serangan raja chola berpindah ke Sokkur dan pada tahun 1780 mendirikan kembali kerajaan Saribujawa, sangat anti terhadap penjajahan Belanda yaitu Tuan Dahatam Damanik, selanjutnya semua keturunan pada Umumnya memakai Damanik Raja atau Damanik Nagur.

3. Timo Raya

Ke pantai Laut Tawar mengikuti jalur sungai Bah Bolon sebelah barat Pulau Pandan Pardagangan, mendirikan Kerajaan Bornou abad ke-13 dan keturunannya disebut Si Raja Ula yang menurunkan :

Sosiar Mangula
Raja Na Takkang
Lumban Sambo.

Umumnya memakai marga Damanik Tomok.

Sampai di sini dulu mengenai gambaran asal-usul Damanik namarsanina ini sejak dari Nagur Bayu, sebelah timur Gunung Simbolon yang selama ini kurang mendapat perhatian, terutama dari kita yang mengaku marga Damanik. Satu kebanggaan bagi kita yang memakai marga Damanik, sampai hari ini masih mempunyai perasaan AHAB DAMANIK yang kuat. Istilah Simalungun NAMARSANINA.

Catatan : pernah terjadi upacara di keluarga marga Damanik di Pamatang Siantar tahun 60-an; penulis melihat enam orang perwira berpangkat Kapten TNI umumnya para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945. Sesudah penulis menghampiri keenam perwira tersebut, penulis bertanya siapa yang sulung, tengah dan bungsu. Salah seorang dari perwira tersebut menjawab, “Yang penting, sama-sama Damanik na marsanina!” Hal demikian bisa dimaklumi karena para perwira tersebut adalah orang militer yang menganut sifat disiplin mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia apapun resikonya; tidak terlalu memikirkan soal-soal sejarah asalnya Damanik.

Sesudah penulis mempelajari asal-usul keenam perwira tersebut dapatlah diketahui sebagai berikut :

Kapten Tailam Damanik turunan Raja Manik Hasian.
Kapten Raja Tagor Damanik turunan Tuan Raja Sidamanik.
Kapten Saiman Damanik turunan Raja Sosiar Mangula.
Kapten Jahuala Damanik turunan Raja Jumorlang.
Lettu Muhtaruddin Damanik turunan Partuanan Banggal Sipolha Sosiar Mangula.
Kapten Ulakma Damanik turunan Tuan Sait Buttu Raja Natakkang.

Memang dalam perjalanan sejarah Damanik ini terlebih-lebih dengan meletusnya apa yang disebut Revolusi Sosial di Simalungun pada 3 Maret 1946, keturunan raja-raja dan partuanon di Simalungun menjadi takut atau trauma menyebut leluhurnya dari partuanon mana ia berasal, karena raja-raja dan partuanon-partuanon Simalungun banyak yang menjadi korban/terbunuh akibat Revolusi Sosial tersebut.

Banyak kita lihat dewasa ini pendatang-pendatang ke Simalungun dalam horja/pesta adat mereka menyatakan turunan raja anu, raja ini, entah raja apa lagi mereka sebut, tetapi kita Damanik tidak mau menyebut dari partuanon mana ia datang, karena malu dicap feodal; padahal masalah ini sangat penting untuk diketahui oleh generasi penerus supaya nama leluhur kita itu tidak lenyap. Seperti apa yang dikatakan Pdt. Juandaha Raya Purba, bahwa pegklaiman sepihak oleh orang lain bahwa semua manusia penghuni sekitar Danau Toba dikatakannya berasal dari leluhur mereka.

Penulis bukan anti pembauran atau asimilasi soal kesatuan bangsa, sekali-kali tidak; sebagai contoh, umpamanya pendatang Batak Toba yang menyebut dirinya berasal dari kelompok Tatea Bulan dan Silau Raja yang datang ke Simalungun dan mengaku “mardongan tubu” dengan Damanik. Kita terima dengan tangan terbuka, tetapi kalau mereka mengatakan Damanik hun Simalungun berasal dari mereka, bagaimanapun harus kita tolak, karena kita memang bukan berketurunan dari mereka.

Masalah ini penting diketahui karena menyangkut masalah pelaksanaan “horja-horja adat” di keluarga besar Damanik keturunan Nagur.





Penutup

Panjang lebar sudah tulisan mengenai marga Damanik ini, semoga jadi bahan pemikiran bagi pembaca yang saya hormati, terutama kepada generasi penerus kaum muda marga Damanik, di mana pun berada. Masalah nama-nama partuanon Damanik penulis akan mengusahakan pengumpulan nama-namanya dijadikan buku.

Masalahnya sekarang, untuk generasi penerus marga Damanik kita tidak lagi mencari-cari siapa atau leluhur siapa yang menjadi raja terakhir sebelum merdeka; yang kita utamakan siapa di antara marga Damanik itu yang sulung, yang tengah dan yang bungsu, supaya kita dalam horja adat dalam keluarga besar Damanik indah dan penuh keakraban. Apa yang diturunkan oleh leluhur kita dengan istilah Damanik Namarsanina (Damanik kakak beradik).

Sebagai contoh yang terjadi dari dulu penulis berikan gambaran: Tuan Raja Sidamanik Tuan Ramahadim Damanik memanggil abang kepada Tuan Rondauluan Damanik jabatan Bona i Gonrang Kerajaan Sidamanik zaman dulu, sebab Tuan Rondauluan Damanik ini adalah keturunan Raja Manik Kasian, abang dari Tuan Siantan dari kerajaan yang sama dari Si Pakpak Mularaja putera terakhir dari Si Anas Bondailing atau cucu dari Raja Parpandanan Na Bolag atau Nagur Pulau Pandan dahulu kala.

Sebagai contoh kedua, penulis memberikan gambaran Tuan Pasang Damanik putera Tuan Sait Buttu Na Takkang memanggil abang kepada Tuan Ramahadim Damanik karena Tuan Ramahadim Damanik berasal dari keturunan Marah Silau dan Tuan Pasang Damanik berasal dari keturunan Timo Raya.

Sebagai contoh ketiga, Tuan Getok Damanik keturunan Raja Taun Saribudolog Huta Bayu Sidamanik pendiri Sekolah Rakyat (SD sekarang) di Huta Bayu Sidamanik pada zaman Belanda, memanggil abang kepada Tuan Ramahadim Damanik Tuan Raja Sidamanik, karena Tuan Getok Damanik ini bermarga Damanik Hajangan dari Nagur Soro Tilu atau Nagur Bayu Dolog Simbolon putera kedua dari Nagur Pulau Pandan. Dan kakek dari Tuan Getok Damanik ini turut serta menandatangani Korte Verklaring tanda tunduk kepada Belanda tahun 1907 bersama Tuan Raja Riahata Damanik Tuan Raja Sidamanik karena waktu itu, Tuan Riahata Damanik pernah menjadi raja Siantar dan kakek Tuan Getok Damanik ini bernama Tuan Pinggan Damanik yaitu Tuan Saribudolog Huta Bayu Sidamanik.

Dalam perjalanan sejarah pun Partongah Banggal Kerajaan Sidamanik gelar raja kepada Tuan Sidamanik dan tuan Tambun Raya Banggal, gelar pada penguasa Kerajaan Bornou (baca: Tambun Raya) tetap menjalin “parsaninaon” antara abang beradik sebab tuan Sidamanik keturunan Marah Silau dan tuan Tambun Raya Banggal turunan Timo Raya.

Sepanjang pengetahuan penulis tidak pernah tuan Sidamanik “namarsanina” atau kakak beradik dengan Partuanon Sihaporas bermarga Ambarita, hanya diakui sebagai “dongan tubu”.

Di Kerajaan Sipolha pun sejak zaman dahulu kala bahwa Tuan Pangulubalang adalah adik dari tuan Sipolha, karena tuan Pangulubalang adalah keturunan Raja Sosiar Mangula Timor Raya dan tuan Sipolha keturunan Marah Silau.

Kalau diperhatikan sejarah par-Damanik-on ini, bahwa leluhur-leluhur kita dahulu mengetahui silsilah mereka dengan baik, terbukti dari apa yang mereka lakukan sesama mereka sebagai istilah “na marsanina” atau kakak beradik.

Itu sebabnya penulis menganjurkan kepada marga Damanik, terutama generasi penerus supaya mengetahui dari raja atau partuanon mana ia berasal (marhasusuran) dari perserakan Kerajaan Nagur (baca: Simalungun) dahulu kala itu terutama menyangkut marga Damanik. Sebab menurut sejarah di bekas kerajaan Nagur dahulu kala itu telah muncul empat marga utama yang dipakai raja-raja Simalungun apa yang disebut : SISADAPUR, yaitu : SINAGA, SARAGIH, DAMANIK dan PURBA. Ditambah kemudian marga-marga suku lain yang mengakui dirinya sebagai rakyat raja-raja Simalungun dan mengaku dirinya suku Simalungun yang memakai adat-istiadat, bahasa dan kebudayaan Simalungun dalam kehidupannya sehari-hari, seperti: SIPAYUNG, HALOHO, LINGGA, SEMBIRING, DAHARO, DABUKKE, DASOPANG, DABUHIT (SIDAURUK), DABAHO, SITORUS, SIRAIT, MANURUNG, BUTAR-BUTAR, SEMBIRING, TARIGAN, GINTING.

Tulisan para penulis terdahulu mengenai marga Damanik ini sudah banyak diterbitkan, begitu juga penulis-penulis dari suku Batak Toba, tetapi kalau kita perhatikan sangat simpang siur dan membingungkan, tetapi dengan tulisan ini dari kalangan marga Damanik sendiri, penulis mengharapkan dapat memberikan penjelasan tentang marga kita Damanik. Meski penulis akui masih belum sempurna, tetapi setidaknya sudah dapat menjelaskan sejarah Damanik itu yang sebenarnya.

Sampai di sini dulu tulisan mengenai marga Damanik, mudah-mudahan menjadi pemikiran bagi para pembaca, khususnya marga Damanik; apakah penulis memanggil abang atau adik, sebab penulis berasal dari keturunan Tuan Pangulubalang Sipolha Raja Sosiar Mangula putra ketiga dari raja Nagur Timo Raya, salah satu perangkat kerajaan di zaman Kerajaan Sipolha di zaman sebelum kemerdekaan Indonesia. Horas. Salam Habonaron do Bona.






Admin
Admin

Jumlah posting : 18
Join date : 28.02.12

http://batak.nicetopics.com

Kembali Ke Atas Go down

BANGUN DAN RUNTUHNYA KERAJAAN SIMALUNGUN SUMATERA TIMUR

Post  Admin on Tue Mar 06, 2012 3:25 pm

Oleh: Erond Litno Damanik, M.Si

1.Pengantar.

Riwayat asal mula kerajaan Simalungun hingga kini belum diketahui pasti, terutama tentang kerajaan pertama yakni Nagur (Nagore, Nakureh). Demikian pula kerajaan Batanghiou serta Tanjung Kasau. Kehidupan kerajaan ini hanya dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan petualang dunia terutama Marcopolo dan petualang dari Tiongkok ataupun dari hikayat-hikayat (poestaha partikkian) yang meriwayatkan kerajaan tersebut. Di zaman purba wilayah Simalungun mempunyai 2 buah kerajaan besar yaitu pertama kerajaan Nagur yang ada di dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai-sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Pada masa itu, kerajaan Simalungun dikenal dengan nama harajaon na dua (kerajaan yang Dua)Selanjutnya, diketahui bahwa pasca keruntuhan kerajaan Nagur, maka terbentuklah harajaon na opat (kerajaan Berempat) yaitu: Siantar, Tanoh Jawa, Panai dan Dolog Silau. Ke-empat kerajaan ini menjadi populer pada saat masuknya pengusaha kolonial Belanda, dimana tiga kerajaan yakni Tanoh Jawa, Siantar dan Panei bekerjasama dengan pengusaha kolonial dalam memperoleh perijinan tanah. Setelah masuknya Belanda terutama sejak penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) maka tiga (3) daerah takluk (partuanan) Dolog Silau di naikkan statusnya menjadi kerajaan yang sah dan berdiri sendiri, yakni Silimakuta, Purba dan Raya. Pada saat itu, kerajaan di Simalungun dikenal dengan nama harajaon na pitu (kerajaan yang Tujuh). Simalungun Sumatera Timur.Akhir dari kerajaan Simalungun ini adalah terjadinya amarah massa pada tahun 1946 yang dikenal dengan revolusi Sosial. Sejak saat itu, peradapan rumah bolon (kerajaan) Simalungun punah selama-lamanya. Dengan uraian singkat diatas, penulis berkeinginan untuk menulis kembali sejarah berdiri dan hanucrnya kerajaan.Atas dasar inilah, penulis berkeinginan untuk mendeskripsikan kembali sejarah bangun dan hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur yang banyak diriwayatkan dalam sejarah Simalungun.

2. Tiga fase Kerajaan Simalungun.

Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Seperti yang dikemukakan diatas bahwa asal muasal kerajaan Simalungun tidak diketahui secara pasti terutama dua kerajaan terdahulu yakni Nagur dan Batanghiou. Sinar (1981) mengemukakan bahwa kerajaan Nagur telah ada dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. Kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Kendati konsepsi raja dan kerajaan di Simalungun masih kabur, akan tetapi, Kroesen (1904:508) mengemukakan bahwa konsep raja dan kerajaan itu berasal dari orang Simalungun itu sendiri sebagai perwujudan otonomi kekuasaan yang lebih tinggi. Bangun dalam Saragih (2000:310) mengemukakan bahwa kata ‘raja’ berasal dari India yaitu ‘raj’ yang menggambarkan pengkultusan individu penguasa. Mungkin saja konsep itu terbawa ke Simalungun akibat penetrasi kerajaan Hindu-Jawa seperti Mataram lama pada masa ekspansi ke Sumatera Timur (Tideman,1922:58). Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengaruh Hindu di Simalungun dapat diamati langsung dari bentuk peninggalan yang mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa. Nama kerajaan Tanoh Djawa setidaknya telah mendukung argumentasi itu Menurut sumber Cina yakni Ying-yai Sheng-ian, pada tahun 1416, kerajaan Nagur (tertulis nakkur) berpusat di Piddie dekat pantai barat Aceh Dikisahkan bahwa raja nagur berperang dengan raja samudra (Pasai) yang menyebabkan gugurnya raja Samodra akibat panah beracun pasukan Nagur. Pemaisuri kerajaan Samodra menuntut balas dan setelah diadakannya sayembara, maka raja Nagur berhasil ditewaskan. Kendati demikian, sejarawan Simalungun sepakat bahwa lokasi ataupun pematang kerajaan Nagur adalah di Pematang Kerasaan sekarang yang berada dekat kota Perdagangan terbukti dengan adanya konstruksi tua bekas kerajaan Nagur dari ekskavasi yang dilakukan oleh para ahli (Tideman, 1922:51). Mengenai polemik tentang lokasi defenitif kerajaan Nagur pernah berada dekat Pidie (Aceh) dapat dijelaskan sebagai akibat luasnya kerajaan Nagur. Oleh karenanya, raja Nagur menempatkan artileri panah beracunnya pada setiap perbatasan yang rentan dengan invasi asing. Kerajaan Batanghio, tidak ditemukan tulisan-tulisan resmi tentang riwatnya maupun pustaha yang mengisahkan asal-usulnya. Hanya saja Tideman (1922) menulis dalam nota laporan penjelasan mengenai Simalungun. Oleh para cerdik pandai Simalungun, Batanghio pada awalnya dipercaya sebagai partuanon Nagur, akan tetapi karena kemampuannya dan karena luasnya kerajaan Nagur, maka status partuanon itu diangkat menjadi kerajaan. Pada tahun 1293-1295, kerajaan Nagur dan Batanghio diinvasi kerajaan Singasari dengan rajanya yang terkenal, Kertanegara. Ekspedisi itu dikenal dengan ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Panglima Indrawarman yang berasal dari Damasraya Djambi (Wibawa, 2001:14-15) yang kemudian mendirikan Kerajaan (Dolog) Silou pada akhir abad XIV. Untuk mempertahankan, daerah vasalnya, maka raja nagur menyerahkan kekuasaannya kepada para panglima dan mempererat hubungan dengan pematang (central kekuasaan) semakin erat dan kokoh. Dengan demikian di Simalungun sampai pada tahun 1883 terdapat kerajaan yang sifatnya konfederasi (Dasuha dan Sinaga, 2003:31) yakni kerajaan Siantar (Damanik), Panei (Purba Dasuha), Dolog Silau (Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (Sinaga). Wilayah Dolog Silau yang begitu luas dan intensya pertikaian antar huta, maka dibentuklah tiga partuanon, yakni Partuanon Raya (Saragih Garinging), Partuanon Purba (Purba Pakpak) dan Partuanon Silimahuta (Purba Girsang). Strategi ini ditempuh untuk mempererat kekuasaan Dolog Silau dan tiga kerajaan besar lainnya. Setelah penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) pada tahun 1907 yang intinya tunduknya seluruhnya kerajaan kepada kolonial, maka untuk mempermudah urusan administrasi serta mempermuda politik devide et impera, maka status partuanon dari tiga partuanon Dolog Silou itu dinaikkan statusnya menjadi kerajaan. Yakni kerajaan Silimahuta (Purba Girsang) yang Pematang nya di Pematang Nagaribu, kerajaan Purba (Purba Pak-pak) dengan pematang di Pematang Raya. Dengan demikian setelah penandatanganan Korte Verklaring, Simalungun mengenal tujuh kerajaan yang bersifat konfederasi, yakni dikenal dengan sebutan Kerajaan nan tujuh (harajaon Na pitu-siebenvorsten) (Tambak,1982:20-128; Tideman,1922:3-11). Pasca penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) itu, maka oleh pemerintah kolonila Belanda, penguasa pribumi (native states) ditugaskan untuk mengurus daerahnya sendirinya sebagai penguasa swapraja. Sebagai penguasa daerah yang otonom mereka memiliki status sebagai kepala pemerintahan daerah. Penataan itu dilakukan sebagai upaya mempercepat aneksasi dan passifikasi daerah dalam upaya menjaga kondusifitas onderneming kolonial.Dalam poestaha hikayat Parpadanan na Bolak dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ayam (dayok nabinatur).Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing, Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masing-masing kerajaan di Simalungun dengan marga pemerintahnya adalah sebagai berikut:

Fase Nama Kerajaan Marga Pemerintah I Kerajaan yang dua Nagur Damanik Batanghoiu Saragih II Kerajaan yang Empat Siantar Damanik Tanoh Jawa Sinaga Dolog Silau Tambak Panai Dasuha III Kerajaan yang Tujuh Siantar Damanik Tanoh Jawa Sinaga Dolog Silau Tambak Panai Dasuha Raya Garingging Purba Pakpak Silimahuta Girsang

3. Runtuhnya Kerajaan Simalungun Sumatera Timur.

Kekhasan Sumatera Timur menjelang Indonesia merdeka tahun 1945 adalah adanya perbedaan-perbedaan kelas antara bangsawan dan rakyat jelata. Dalam masyarakat Simalungun, perbedaan kelas tersebut adalah seperti golongan parbapaan (bangsawan), partongah (pedagang), paruma (petani) dan jabolon (budak). Keadaan yang sama ada pada rakyat Melayu Sumatera Timur terutama antara Sulthan dan rakyat.Sebagai negera yang bari terbentuk, nasionalisme rakyat Indonesia masih mengental dan dapat dipahami apabila masih menaruh dendam terhadap feodalisme yang sebelumnya merupakan kaki tangan kolonial. Oleh karena itu, situasi rakyat yang masih baru merdeka, kemudian disulut dengan provokasi orang lain (organisasi) tak pelak lagi apabila kecemburuan sosial dapat berujuk revolusi massa yang menelan ongkos sosial yang tinggi. Termasuk punahnya sebuah peradapan di Sumatera Timur (Simalungun dan Melayu), dimana raja dan kerabatnya beserta istananya musnah selama-lamanya. Keadaan seperti ini berlanjut hingga memasuki tahun 1946 sehingga mendorong kebencian masyarakat terhadap golongan elit. Sejalan dengan itu, berkembangnya pemahaman politik pada waktu itu, turut pula menyulut keprihatinan terhadap perbedaan kelas yang didorong oleh keinginan untuk menghapuskan sistem feodalisme di Sumatera Timur.Demikianlah hingga akhirnya terjadi peristiwa berdarah yang meluluhlantakkan feodalisme di Sumatera Timur terutama pada rakyat Simalungun dan Melayu. Pada peristiwa tersebut empat dari tujuh kerajaan Simalungun yaitu Tanoh Jawa, Panai, Raya dan Silimakuta pada periode ketiga ini musnah dibakar. Sementara Silau, Purba dan Siantar luput dari serangan kebringasan massa. Raja dan kerabatnya banyak dibunuh. Peristiwa ini menelan banyak korban nyawa, harta dan benda. Kejadian yang sama juga menimpa kesultanan Melayu dimana empat kesultanan besarnya Langkat, Deli, Serdang serta Asahan dibakar dan lebih dari 90 sultan dan kerabatnya tewas dibunuh (Reid, 1980)Riwayat swapraja Simalungun telah berlalu setelah terjadinya revolusi sosial pada tahun 1946. Revolusi itu tidak saja menamatkan kerajaan tapi juga seluruh kerabat perangkat kerajaan dan keluraga raja yang mendapatkan hak istimewa dari pemerintah kolonial, sehingga telah meningkatkan kecemburuan sosial dari rakyat terhadap raja. Revolusi terjadi setelah rakyat diorganisir dan diagitasi oleh organisasi dan partai revolusioner di Simalungun. Sejak saat itu sistem kerajaan tradisional Simalungun menemui riwayatnya. Dalam arti lain, lenyapnya atau runtuhnya zaman keemasan monarhi itu telah pula menandai berakhirnya peradapan besar rumah bolon.









4. Penutup.



Bentuk peradapan Simalungun yang tidak dimiliki oleh sub etnik Batak lainnya terletak pada sistem pemerintahannya. Orang Simalungun mengenal sistem pemerintahan yang sangat jelas yaitu monarchis (kerajaan), suatu bnetuk pemerintahan yang dikepalai oleh raja beserta aparaturnya. Bentuk pemerintahan tersebut adalah bentuk persinggungan budaya Hindia yang masuk ke tanah Batak memasuki abad ke-4 yang membentuk kerajaan tertua di Sumatera yakni Nagur. Terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur adalah sebagai dampak dari gejolak amarah massa yang terjadi pada 6 Maret 1946 yang lebih dikenal dengan revolusi sosial terutama di wilayah Simalungun dan Melayu Sumatera Timur. Sejak saat itu, sistem pemerintahan swapraja Simalungun punah selama-lamanya.



NURDIN DAMANIK

[1] Kalau diperhatikan letak geografis dan letak daerah sekitar Danau Toba yang dikelilingi beberapa gunung dan dataran-dataran tinggi, jika diperhatikan dari arah Selat Malaka, satu-satunya jalan yang terbaik menuju Laut tawar (Danau Toba) adalah melalui tanah datar antara Gunung Dolog Simarjarunjung dan Dolog Sijambak Bahir (lihat peta).

[2] Itu sebabnya waktu Pendeta J. Wismar Saragih sekolah pendeta di Tapanuli (Toba) pendeta tersebut mendengar doa seorang pendeta di tempat ia sekolah bahwa pendeta Jerman mendoakan agar orang-orang yang di Purba dan orang-orang yang di Raya itu terbuka hatinya memasuki Kerajaan Tuhan Jesus, tidak dikatakan supaya orang Simalungun itu percaya kepada Tuhan Jesus Juruselamat. Memang manusia penghuni daerah mulai dari Gunung Simanuk-manuk yang berbatasan dengan Toba dan sekeliling Gunung Simbolon sampai ke perbatasan Deli dan Tanah Karo, Selat Malaka sampai ke Danau Toba orangnya memakai bahasa dan adat yang sama; kelak di kemudian hari oleh orang luar dari daerah tersebut di atas seperti orang Toba, Karo, Melayu dan Mandailing emnyebutnya adat dan bahasa Simalungun.

[3] Pada pertengahan abad ke-19, ketiga daerah kerajaan ini berganti nama, persisnya pada waktu serbuan tuan Raya Tuan Rondahaim Saragih yang membumi hanguskan Sidamanik pada tahun 1886, adapun perubahan nama ketiga kerajaan ini adalah sebagai berikut :

Kerajaan Manik Hasian berubah menjadi menjadi Partuanan Simanjoloi.
Kerajaan Jumorlang berubah menjadi Partuanan Jorlang Huluan.
Kerajaan Bornou berubah menjadi Partuanon Tambun Raya Banggal (Agung.


Admin
Admin

Jumlah posting : 18
Join date : 28.02.12

http://batak.nicetopics.com

Kembali Ke Atas Go down

Sejarah perjuangan kerajaan saribujawa.

Post  Admin on Tue Mar 06, 2012 3:26 pm





Dari Partibi Sinombah keturunan Tuan Nagur mengirimkan Tuan Bohom Damanik untuk mendirikan kerajaan Saribujawa dengan wilayah mulai amborokan, partimalayu, huta saing, saribujawa, parapat huluan, simanabun, parapat buntu dan dolog morawa, keturunan tuan Bohom Damanik yang terakhir berkuasa yaitu tuan dahatam damanik yang hanya berumur 82 tahun, selama pemerintahannya dikenal sangat anti dengan Belanda, setiap tentara belanda datang ke dologsilau dan saribu jawa selalu diserang pasukan tuan dahatam damanik dengan senjata rahasia Hultop beracun dan belanda sering dihalau di jembatan sungai Bah Ambalotu dengan hentakan kaki ke tanah sehingga seketika terjadi gempa bumi, bumi bergoyang akhirnya belanda lari ke kota tebing tinggi,,,tuan dahatam meninggal karena digigit ular yang dikirim oleh raja raya (marga saragih), saat itu tuan dahatam damanik lengah dan menyesali dirinya karena anaknya tidak mau diajari menerima ilmu yang mau diturunkan yaitu ilmu harajaon, ilmu kesaktian pidoras, racun hultop dan tahan tembak, sejak itulah kerajaan dahatam langsung tamat, semua anaknya pergi ke wilayah nagoridolok, anak dari tuan dahatan aima : St. Tajim Lybercius Damanik, Mari Damanik, Rumbi Boru Damanik dan Roba Boru Damanik semua sudah almarhum, tinggallah kami anak-anaknya : 1. Janer Damanik (nagoritani), 2. Hermanus Damanik/boru girsang (kabanjahe), Amir Hasan Damanik (alm)/boru sitopu, Rosnauli Damanik/saragih (alm) (negeritani), JSM Damanik/boru saragih (medan), Rosminaria Damanik/turnip (nagoridolok), Rosmaini Damanik/purba (medan), Risma Damanik/Lumbantobing (medan),,

lanjutan :

anggo iatasni tuan Dahatam Damanik on igorando tuan Mintara Damanik, cerita singkat ibaen goran saribu jawa halani kerajaan damanik nagur mendapat intimidasi dari penjajah Belanda, sebahagian pasukan laho ma mengikuti tuan Bohom Damanik mengembara hu daerah saribu jawa, daerah on aima daerah harangan toras pakon dolog dolog, terkenal igoran bukit pening, dong dope peninggalan songon benteng pertahanan, sonari ikenal huta bongbongan, namenjadi tempat persembunyian anjaha pengembaraan rombongan ni tuan jigou, on ma namanjadi kerajaan saribujawa. daerah on keadaan medan sangat sulit dijalani, bahkan sampai sekarang belum bisa dilewati kendaraan roda 2 maupun 4 dan dikenal rute perjuangan...on ma dalan na lang terealisasi jalan negeri dolok hu pematang raya, das bani sonari on anggo par saribujawa hu pematang raya maningon melalui simanabun - nagori dolok - tebing tinggi - p. siantar - pematang raya...

raja saribujawa tuan dahatam damanik meninggal dunia pada tahun 1942 ketepatan dengan menyerahnya tentara jepang kepada sekutu nica lalu dimakamkan di talun dolok singgalang.

sejarah saribujawa : pada jaman penjajahan belanda banyak orang jawa dipekerjakan di perkebunan dengan transmigrasi di pematang sidamanik sipolha, sedangkan di dearah gunung simbolon, dolok saratus, dolok singgalang ada seribuan orang jawa memperkuat pertahanan kerajaan nagur yaitu panglima perang kerajaan nagur yang mempersiapkan kekuatan melawan belanda di sekitar gunung simbolon, orang jawa ini mengolah hutan menjadi ladang, mengambil hasil hutan yaitu rotan dan kayu, pada tahun 1900 disekitar dolok saratus ada nama huta bongbongan, disini dulu orang jawa membuat bendungan sungai untuk mengalihkan aliran sungai yang dari gunung simbolon ke bah karei untuk mengairi persawahan sampai ke silau dunia, dolok masihol, karena sebelumnya semua air mengalir ke bah ambolotu yang mengairi persawahan di sekitar nagori dolok dan bandar hanopan yang banyak dikuasai oleh kerajaan doloksilau marga purba,,,maka ada mitos waktu itu tidak bolah bah karei dengan bah ambolotu bersatu, apabila bersatu maka akan terjadi malapetaka besar bagi rakyat.

keterangan tambahan kerajaan nagur yang di gunung simbolon sampai raja yang terakhir yaitu raja saribujawa tuan dahatam damanik

dalam keterangan diatas tidak disebutkan adanya swapraja dan Korte Verklaring 1907 antara kerajaan Nagur yang membangun kekuatan di dolok simbolon sekitarnya,,,sedangkan menurut tetua tetua damanik yang ada di amborokan, partimalayu, ramania, sipispis, sindarraya dan ginomparni tuan dahatam damanik raja saribujawa, bahwa memang di sekitar gunung simbolon sampai ke dolok saratus tersebar pasukan nagur dengan senjata rahasia hultop beracun untuk selalu siap melawan belanda, makanya belanda tidak berhasil masuk ke wilayah kerajaan nagur,,,kronologis terakhir kejadian yang sangat dikenal masyarakat yaitu keberanian raja tuan dahatam damanik mengawal rakyat untuk membawa hasil bumi mau dijual ke kota tebing tinggi melalui nagori dolok, silau dunia, dolok masihol,,,setibanya di jembatan bah ambalotu belanda sudah menunggu untuk mengambil pajak, hanya separuh dari barang dagangan yang boleh dijual, separuhnya harus diserahkan ke belanda, saat itulah raja tuan dahatam menginjakkan kakinya ke tanah, maka seketika terjadi gempa dan angin halisungsung yang ditiup oleh tuan dahatam tersebut, sehingga belanda sangat ketakutan dan melarikan diri ke arah tebing tinggi, maka rakyat menjual semua hasil bumi dan ternak dolok masihul dan tebing tinggi, dengan berjalan kaki dan sepeda.

Admin
Admin

Jumlah posting : 18
Join date : 28.02.12

http://batak.nicetopics.com

Kembali Ke Atas Go down

SILSILAH PARTUANON SARIBUJAWA

Post  Admin on Tue Mar 06, 2012 3:27 pm


Sejarah hasusuranni Radja Tuan Dahatam Damanik.



Oppung sitombei huta saribujawa hun huta Partibi Sinombah

(PARTUANONSARIBUJAWA)

TUAN BOHOM DAMANIK / ROMMA BR GIRSANG ( 1790-1865) manubuhkon :



3 BORU :

1. RIANI DAMANIK

2. RAHON DAMANIK

3. RONGGIMA DAMANIK



4 ANAK DALAHI :

1. Tuan MINTARA DAMANIK (1834-1924)

1.1. Tuan DAHATAM DAMANIK/TOPAINIM PURBA (1864-1942)

1.1.1. Tuan TAJIM LYBERCIUS DAMANIK/M. ROSMAITA PURBA

(1922-2008) (NAGORITANI)

1.1.1.1. JANER DAMANIK/TINA BR PURBA (NAGORITANI)

1.1.1.2. HERMANUS DAMANIK/SELLY GIRSANG (KABANJAHE)

1.1.1.3. AMIRHASAN DAMANIK/SARMA SITOPU (NAGORITANI)

1.1.1.4. ROSNAULI DAMANIK/MULDEN SARAGIH (NAGORITANI)

1.1.1.5. JSM DAMANIK/MINAR W SARAGIH (MEDAN)

1.1.1.6. ROSMINARIA DAMANIK/ARIF SARAGIH (SIRPANGOPAT)

1.1.1.7. ROSMAINI DAMANIK/JONAMAN PURBA (MEDAN)

1.1.1.8. RISMANNARIA DAMANIK/F. LUMBANTOBING (MEDAN)

1.1.2. RASI BR DAMANIK/MARDI PURBA (BONGBONGAN)

1.1.3. MARI DAMANIK

1.1.4. ROBA DAMANIK/JAWALEN PURBA

1.1.5. RUMBI DAMANIK/BAREN SINAGA

1.2. TORMAINIM DAMANIK

1.3. TARINIM DAMANIK



2. Tuan MANGGA DAMANIK/R. BR PURBA.

2.1. Tuan KORAJIM DAMANIK/

2.1.1. JARAMA DAMANIK/MANTINA PURBA

2.1.2. MARTANI DAMANIK/MARNA SEMBIRING

2.1.3. LESMAN DAMANIK/TATA PURBA

2.1.4. MUDAHAMIN DAMANIK/R. PURBA

2.1.5. RAMINI DAMANIK/KAJAD PURBA (PARTIMALAYU)

2.1.6. LERTINA DAMANIK/JORMAN SINAGA (KARIAHAN)

2.1.7. ROLIANNA DAMANIK/ITTU SARAGIH

2.2. Tuan JAHITAP DAMANIK

2.2.1. JARINSEN DAMANIK

2.2.2. ……

2.3. TORHANIM BR DAMANIK

2.4. ENEM BR DAMANIK

2.5. SARANIM BR DAMANIK

2.6. RAHENEM BR DAMANIK

2.7. LOTA BR DAMANIK



3. Tuan MARADA DAMANIK/R. BR GIRSANG

3.1. Tuan TORALIM DAMANIK/BORUGIAN PURBA

3.1.1. MUDAHAMAN DAMANIK/ASMI PURBA

3.1.2. RUSMALINA DAMANIK/MAREDAN SARAGIH

3.1.3. SUDIMAN DAMANIK/RASTIANIM PURBA

3.1.4. SUBIRMAN DAMANIK/TIANNARIA SARAGIH

3.1.5. ROSMAWATI DAMANIK/JON PARULIAN GIRSANG

3.1.6. SAMARIANI DAMANIK/HENRI FONDA SEMBIRING

3.1.7. EDWARD P DAMANIK/INUR GIRSANG

3.2. KORINIM DAMANIK

3.3. KARINA DAMANIK

3.4. Tuan KORAJIN DAMANIK/BORU PURBA

3.4.1. REMAN DAMANIK/KINTAUHUR PURBA

3.4.2. RAMIANIM DAMANIK/RAMALIM SARAGIH

3.4.3. NONEM DAMANIK/APUK PURBA

3.4.4. RANSEL DAMANIK/MENTAK PURBA

3.4.5. TIUR DAMANIK/RAMULUM

3.4.6. SITEK DAMANIK/N. SARAGIH

3.5. TORMANIM DAMANIK



4. Tuan MANGSA DAMANIK /SIBORU PURBA

4.1. Tuan JARIAM DAMANIK/MIAN BR PURBA

4.1.1. JAHIA DAMANIK/BUNGA LONTA PURBA

4.1.2. RASIANNA DAMANIK/ATER PURBA

4.1.3. JAKIAN DAMANIK/MARTIANNA PURBA

4.1.4. KARTIANNA DAMANIK/RUBEN SARAGIH

4.1.5. SARUNIM DAMANIK/JEKSON SIPAYUNG

4.1.6. ADEK DAMANIK/TULA PURBA

4.1.7. KAMAN DAMANIK/SERI SIPAYUNG



4.2. RAMALONIM DAMANIK/KADING SINAGA

4.3. Tuan JALEKER DAMANIK/KAMINTA PURBA

4.3.1. SARIPEN DAMANIK

4.3.2. ASMA DAMANIK

4.3.3. SUDIMAN DAMANIK

4.3.4. GIRSOM DAMANIK

4.3.5. AMIRUDDIN DAMANIK

4.3.6. JAYAKARMAN DAMANIK

4.3.7. ANI DAMANIK

4.3.8. JULUR DAMANIK



4.4. Tuan RAILAM DAMANIK/KORASMINA PURBA (RAWANGLUTING)

4.4.1. ARTIMA DAMANIK/BEONG SARAGIH

4.4.2. TRULIAMAN DAMANIK/MURNIATI SARAGIH

4.4.3. MARIANI DAMANIK/KLIWON S

4.4.4. LIHARMAN DAMANIK/ANI PURBA

4.4.5. SUMARNI DAMANIK/DAME PURBA

4.4.6. SIMSEN DAMANIK/DELPIANA PURBA

4.4.7. PONDANG DAMANIK/TIURMA O PURBA

4.4.8. SAMIARA DAMANIK/DORLAS PURBA



4.5. Tuan KARDIMAN DAMANIK/RAMENTE SIPAYUNG (HUTAPINING)

4.5.1. JANUESSEN DAMANIK/ER

4.5.2. ERLINA DAMANIK/JASEN SARAGIH

4.5.3. BESEN DAMANIK/BR PURBA

4.5.4. LORMAINA DAMANIK/MARIONO SIPAYUNG

4.5.5. MARIASEN DAMANIK/PERAWATI PURBA

4.5.6. RIAHMA DAMANIK/SAMEN SIPAYUNG

4.5.7. DONGMA UHUR DAMANIK/ALOPAN SARAGIH
berkaitan dengan data @Wilmar Damanik :

marabatta,raja nagur pertama, putranya maratilu,raja nagur ke ke 2, putra martilu, soro tilu. sorotilu punya putra 2 orang sorialam dan soribanua. sorialam punya putra 3 orang : 1.marahsilu raja nagur ke 3. yg kedua sormahata,raja nagur ke... 4. anak ke 3 sarialam. sormahata punya putra 2, mula raja dan rahat dipanei sebagai raja nagur ke 5 yang menikah dgn mabobar matabur.melahir kan 3 putra, sormaliat,mando rajadibulan dan mandoraja diha ri. sormaliat menurunkan anas bondailing,putranya pakpak mu laraja,raja nagur ke 6,putra bernama timor raya.putranya bernama raja tonjam raja nagur ke 7 yg pertama mema kai marga damanik,putranya bernama raja lelo,raja nagur ke 7 tekenal putrinya bernama sang mainim, masa kejayaan kerajaan bah bolag, kerajaan bah nabolak atau selat malaka. putra raja lelo sangma alam bergelar malikul saleh raja nagur 9, raja samudra pasai. putranya sang majadi raja nagur X. sang majadi mempu nyai anak 5 : sangmahiou, sang madoriangin, saduk dihataran, jigo dihataran dan anggarainim.. sampai terjadi serangan rajendra cola, dan expedisi pamalayu dari mojopahit,dan nagur benar hancur,dan keturunannya mengundurkan diri ke pedalaman, yang kelak mendirikan kerajaan jumorlang manikhasian, bornou, siantar dll.



Raja Sorotilou Damanik (Syah bandar Sorotillou/Panglima Angkatan Laut Kerajaan Nagur).

1. Raja Sitonggang

2. Si Ari Urung Damanik Bah Bolag (Pemangku sementara Kerajaan Siantar)

3. Si Djara Damanik Bah Bolag

4. Oppu Ingat Damanik Bah Bolag

5. Paingat Damanik Bah Bolag

6. Panggarain Damanik Bah Bolag

7. Si Anggarain Damanik Bah Bolag

8. Oppu Dorgama Damanik Bah Bolag

9. Padorgama Damanik Bah Bolag

10. Si Dorgama Damanik Bah Bolag

11. Pamaondos Damanik Bah Bolag

12. Si Maondos Damanik Bah Bolag

13.1. Naikkata Damanik

13.2. Jinari Damanik

13.3. Sanggara Damanik

13.4. Jamintan Damanik



13.1. Naikkata Damanik

14.1.1. Morga Damanik

14.1.2. Urat Damanik

14.1.3. Tia Damanik

14.1.4. Tangma Damanik

14.1.5. Hurung Damanik

14.1.6. Gomgom Damanik

14.1.7. Suma Damanik

13.4. Jamintan Damanik

14.4.1. Bako Damanik

14.4.2. Horti Damanik

14.4.3. Tikka Damanik

14.1.1. Morga Damanik

15.1.1.1. Sadaudur Damanik

16.1.1.2. Hurmansyah Damanik

16.1.1.3. Garalam Damanik

16.1.1.4. Sukur Damanik

14.1.2. Urat Damanik

15.1.2.1. Mahidin Damanik

15.1.2.2. Dali Damanik

15.1.2.3. Jalama Damanik

15.1.2.1. Mahidin Damanik

16.1.2.1.1. Jahya Damanik

16.1.2.1.2. M Yunus Damanik

15.1.2.3. Jalama Damanik

16.1.2.3.1. Wahid Damanik

16.1.2.3.2. Lampung Damanik

16.1.2.3.3. Fajar Damanik

16.1.2.3.4. Nyaman Damanik



14.1.4. Tangma Damanik

15.1.4.1. Morala Damanik

15.1.4.2. Agen Damanik



14.4.1. Bako Damanik

15.4.1.1. Jahmin Damanik

15.4.1.2. Soding Damanik



14.4.2. Horti Damanik

15.4.2.1. Jain Damanik

15.4.2.1. Ninik Damanik

15.4.2.1. Salimah Damanik



14.4.3. Tikka Damanik

15.4.3. Umar Damanik

16.4.3. Eman Damanik






Admin
Admin

Jumlah posting : 18
Join date : 28.02.12

http://batak.nicetopics.com

Kembali Ke Atas Go down

PARTIGATIGA SIHAPUNJUNG DAN ANGGARANIM

Post  Admin on Tue Mar 06, 2012 3:29 pm


Oleh: Masrul Purba Dasuha, S.Pd

Pada abad ke-13 hiduplah tiga orang keturunan marga Damanik Sidabariba atau lebih akrab disebut Bariba yang bersaudara, yaitu Parmata Manunggal yang tertua (bukan nama asli tapi gelar), Anggaranim saudara tiri, dan adik mereka Partigatiga Sihapunjung (bukan nama asli tetapi gelar). Ketiganya bermukim di suatu kampung kecil yang dahulu disebut Siantar Matio (Sibisa Lumban Julu, dekat Kota Parapat sekarang). Di masa mudanya Partigatiga Sihapunjung dikenal sebagai seorang pemuda ganteng, demikian juga kakak tirinya Anggaranim seorang gadis jelita dan rupawan, kerjanya sehari-hari hanya bercermin pada mata air. Sementara Parmata Manunggal berbeda dengan keduanya, ia terlahir dalam keadaan cacat, bermata satu dan bermuncung panjang (Si Sada Mata Si Ganjang Unsum). Namun dengan keadaan seperti itu, justru ia tidak kehilangan kepercayaan diri, bahkan ia mampu menampilkan diri sebagai seorang abang yang siap mengayomi adik-adiknya. Kelak ketika adiknya, Partigatiga Sihapunjung mendirikan Kerajaan Siantar, abangnya ini ditugaskan sebagai penguasa di daerah Sipolha.

Dalam kesehariannya Partigatiga merupakan seorang pedagang kerbau yang sering melakukan pengembaraan demi memperdagangkan dagangannya. Dalam pengembaraannya sampailah ia ke Silampuyang (dekat Marihat Kasindir, Tiga Balata) dan menetap di kampung itu. Di tempat itu, Partigatiga Sihapunjung kemudian menikah dengan putri Pertuanan Silampuyang bermarga Saragih (Ketika masih berada di Sibisa Partigatiga sudah pernah kawin dan meninggalkan beberapa orang anak di antaranya bernama Si Ali Urung gelar Ompu Barita. Salah seorang cucunya bernama si Bagod Dihitam). Ketika berada di tempat itu, usaha dagang kerbau masih terus ditekuninya hingga mendapat keuntungan yang besar hingga membuat sang mertua bangga terhadapnya. Mengetahui keadaan adik mereka yang berlimpah dengan harta, abangnya Parmata Manunggal dan kakak tirinya Anggaranim kemudian menyusul adik mereka ke Silampuyang, ikatan persaudaraan sebagaimana ketika masih berada di Siantar Matio kini terjalin kembali. Namun tidak lama setelah kebahagiaan itu dirasakannya, Partigatiga tiba-tiba mengalami bangkrut (punjung) besar-besaran sehingga hal itu membuat sang mertua tidak mengaguminya lagi serta menganggap remeh terhadapnya.

Tidak tahan mengalami perlakuan seperti itu, ia kemudian mencoba untuk kembali berdagang, kali ini ia mencoba berusaha berdagang ayam karena modalnya untuk melanjutkan usaha dagang kerbau tidak mencukupi lagi, namun usaha dagang ayam in ternyata tetap mengalami kebangkrutan. Kesedihan dan keresahan kian menyelimuti diri Partigatiga hingga beberapa lama dan hal inilah yang menyebabkannya pergi melanglang buana kembali meninggalkan kampung sang mertua. Dengan membawa sepasang ayam Manuk Sihulabu (mengenai istrinya ikut serta atau tidak dalam perjalanan itu belum ada keterangan yang jelas) pergilah ia menuju arah selatan tepatnya di suatu kampung tempat pertemuan aliran sungai Bah Bolon (kampung Tomuan, Pamatang Siantar sekarang). Pada masa Partigatiga ini di sekitar Pamatang Siantar telah terdapat beberapa perkampungan seperti Pamatang, Naga Bosi, Silampuyang, dan Dolog Malela.

Syahdan, di kawasan itu telah berdiri suatu kerajaan yang diperintah oleh raja Si Tanggang bermarga Sinaga, raja ini dikenal cukup kaya dan menguasai wilayah yang luas sampai ke Tanoh Jawa sekarang (pada masa kerajaan Batangiou dengan rajanya bermarga Sinaga, Siantar masuk ke dalam wilayah kekuasaannya), hingga membuatnya termasyhur sebagai raja penakluk yang disegani banyak orang. Sebagai seorang raja, ia sangat gemar bermain judi dan mengadu ayam (panabung dayok). Dalam setiap permainan, ia selalu juara dan tak terkalahkan oleh siapapun. Mendengar kabar itu, Partigatiga tidak sedikitpun merasa gentar untuk melanjutkan perjalanan ke wilayah kerajaan Raja Si Tanggang.

Di tempat itu ia lalu membuka areal perladangan luas, berkat ketekunannya mengelola ladangnya lantas menghantarkannya menjadi sosok yang kaya dan terkenal serta menjadi pembicaraan banyak orang. Berduyun-duyun masyarakat mendatanginya untuk mengharapkan bagian dari hasil ladangnya, dengan sukarela Partigatiga memberikannya namun dengan syarat mereka harus memanggilnya raja, demi mengharapkan pemberian dari Partigatiga, persyaratannya itu pun mereka setujui. Tidak lama kemudian sampailah berita ini ke telinga Raja Si Tanggang, dengan berangnya ia lalu mengutus orang untuk menyuruh Partigatiga menemuinya, karena Si Tanggang merasa tidak ada raja lain di daerah ini selain dirinya. Dengan menggunakan rakit terbuat dari rotan untuk menyeberangi Bah Bolon pergilah suruhan raja itu menemui Partigatiga ke Tomuan.

Sesampainya Partigatiga ke istana Raja Si Tanggang dengan disaksikan banyak orang, Si Tanggang lantas bertanya pada Partigatiga, “Ise do ho ambia?”, “Raja do ahu”, sahut Partigatiga. Berserulah Si Tanggang, “Bijahonma gan anggo tongon do ho raja i datas tanoh harajaonhu on”, mendengar itu dengan berani bersumpahlah Partigatiga, “Raja do au i datas tanoh na huhunduli on janah bah na huinum on”. Keberaniannya untuk bersumpah karena ia memang sudah mempersiapkan sekepal tanah dan air yang dibawanya dari Siantar Matio. Mendengar pengakuan Partigatiga demikian, Raja Si Tanggang sedikit merasa sangsi, di benaknya berkata “Na tongon do gakni ambia on raja i tanoh on”. Lantas ditanyakanlah hal itu kepada masyarakat yang hadir, dengan spontan mereka menyerukan bahwa Partigatiga memang raja mereka.

“Anggo sonai marsabung dayok ma hita, ia anggo anggo talu dayokhu ibahen dayokmu, ho ma tongon raja ijon. Tapi anggo lang ahu do na talup gabe raja ijon”, kata Raja Si Tanggang kepada Partigatiga. “Dear!”, sahut Partigatiga. Ajakan itu pun diterima Partigatiga dengan spontan apalagi ia juga terkenal sebagai penyabung ayam yang ulung (karena kebiasaannya itu ia juga dikenal dengan gelar Raja Parmanuk Sihulabu). Adapun syarat pertandingan bila nantinya Raja Si Tanggang kalah ia harus bersedia menyerahkan kerajaan dan seluruh harta benda yang dimilikinya kepada Partigatiga, demikian pula sebaliknya bila ternyata Partigatiga kalah ia pun harus siap menyerahkan seluruh harta bendanya sebagai taruhan.

Turnamen adu ayam antara kedua belah pihak pun berlangsung, dengan cekatan Manuk Jagur Sihulabu milik Partigatiga berhasil melumpuhkan ayam Raja Si Tanggang silih berganti sampai enam babak dengan enam ekor ayam. Pada babak ketujuh, Si Tanggang meminta agar panglimanya dipertaruhkan sebagai lawan dari ayam Partigatiga. Permintaan itu disetujuinya, ia lalu menaruh pisau pada taji Manuk Sihulabunya, namun sebelum mulai bertanding sang ayam terlebih dulu mengibaskan sayapnya pada pasir, tiba-tiba serangan dari lawan menghampiri, dengan sigap sang ayam melompat dan mendarat di atas kepala panglima tersebut. Sang ayam lalu mengibaskan sayap yang mengandung pasir itu, lantas terkena mata si panglima, pada saat seperti itu disebatkanlah tajinya tepat di leher si panglima hingga terputus. Menanglah ayam Partigatiga, namun tidak lama kemudian ia lalu terbang ke langit dan tidak kembali lagi.

Melihat kekalahan itu dengan berat hati dan sesuai dengan kesepakatan, Raja Si Tanggang harus bersedia menyerahkan segala harta kekayaannya termasuk kerajaannya kepada Partigatiga Sihapunjung. Tidak sanggup menerima rasa malu, Si Tanggang kemudian memutuskan menyingkir ke Tanah Jawa (lebih kurang 20 km dari Pamatang Siantar) ke daerah pusat leluhurnya. Sejak saat itu resmilah Partigatiga sebagai raja, dibuatlah nama baru untuk kerajaan yang berhasil direbutnya itu dengan nama Siantar mengikut dari nama kampung halamannya Siantar Matio (ada juga keterangan yang menyebutkan kata Siantar berasal dari kata palantar (ruang luas untuk tempat bersidang atau berdiskusi), karena pada zaman dahulu ketika pelantikan Raja-raja Marompat, tempatnya di palantar Rumah Bolon Raja Siantar; ada lagi yang mengatakan istilah itu diserap dari kata antar, suatu jenis tumbuhan yang kala itu banyak ditemukan di sana).

Mendengar keberhasilan Partigatiga, abangnya Parmata Manunggal dan kakaknya Anggaranim kemudian datang menyusulnya ke Siantar. Ia lalu memberikan titah kepada Parmata Manunggal untuk mendirikan pertuanan di Sipolha, sementara kakaknya, Anggaranim tetap tinggal bersamanya di Siantar. Setelah beberapa tahun menjabat sebagai raja dan usia pun sudah mulai lanjut, Partigatiga Sihapunjung kemudian kembali ke kampungnya Siantar Matio untuk menemui putranya Ali urung sekaligus berniat menyerahkan Kerajaan Siantar kepadanya. Setelah itu dinobatkanlah Ali Urung jadi Raja Siantar, lalu kawinlah ia dengan seorang putri (panak boru) keturunan pertuanan Gajing. Sementara kakak tiri Partigatiga Sihapunjung sendiri yaitu Anggaranim yang berwajah cantik tidak juga memperoleh jodoh untuk berumah tangga. Karena resahnya, Anggaranim lalu pergi ke sebuah mata air (sumbul) yang kini dikenal dengan mata air Tapian Suhi Bah Bosar (dari mata air inilah kolam renang di kampung Pamatang yang ada sekarang memperoleh air, kolam renang ini didirikan Belanda pada tahun 1925).

Anggaranim Menjelma Jadi Ular

Guna menghilangkan rasa gelisah, Anggaranim terus menerus bersantai di tepi mata air tadi. Pada suatu kali, entah apa nan mengapa, sebuah dahan kayu besar dan tajam jatuh dan mengenai hidungnya hingga tergores dan mengeluarkan darah. Karenanya merasa kecantikannya jadi pudar dan rusak, Anggaranim merasa malu untuk kembali ke rumah hingga berhari-hari. Ia pun berdoa kepada Tuhan agar hidungnya sembuh dan kembali sempurna seperti sedia kala, namun permintaannya itu tidak kunjung terkabul akibatnya ia terus saja berdiam diri di tepi mata air itu sambil meratapi musibah yang dialaminya. Setelah lama tidak kembali ke rumah Partigatiga lalu mengutus pesuruh untuk mencari keberadaan Anggaranim, tidak lama kemudian ia ditemukan, begitu mereka melihat keadaannya yang sangat memilukan itu, mereka sangat terkejut namun mereka tidak mampu mengupayakan agar Anggaranim dapat sembuh dari musibah yang dialaminya. Yang mereka lakukan hanya menahan rasa pilu dan mengirimkan bekal makanan untuknya.

Kabar ini kemudian meluas ke tengah khalayak, lantas mereka berbondong-bondong pergi ke tempat di mana Anggaranim bersemayam, melihat hal itu ia (Anggaranim) kemudian meminta kepada mereka agar memberikan kain sarung kepadanya yang dinamakan Hiou Sindei (kain ini menyinarkan kilauan). Maksudnya untuk dijadikan kain penutup tubuhnya. Namun pagi harinya, ketika khalayak ramai itu kembali berkunjung ke tempatnya, mereka sangat terkejut karena melihat tubuh Anggaranim mulai dari ujung kaki sampai pinggulnya telah berubah menjadi seekor ular, sejenis ular phyton yang besar, sedang bagian atas masih berwujud manusia. Kabar perubahan Anggaranim menjadi seekor ular besar ini kian meluas ke seluruh penduduk dan kerajaan-kerajaan di Simalungun.

Makin lama makin banyak manusia berdatangan menyaksikan kejadian aneh itu. Penjelmaan tubuh Anggaranim menjadi seekor ular berjalan terus hingga sampai ke lehernya, tinggal kepala dan rambut panjangnya yang masih berwujud manusia. Melihat peristiwa yang menimpa dirinya, Anggaranim meminta kepada mereka, khalayak ramai supaya adiknya Partigatiga Sipunjung datang menjumpainya bersama anak-anak dan cucunya guna menyampaikan kata perpisahan terkahir. Permintaan ini lalu mereka sampaikan kepada semua utusan-utusan kerajaan. Partigatiga beserta anak cucunya telah tiba di tempat dengan diiringi suara gendang tarian bertopeng dan tarian lain ditampilkan guna menghormati Anggaranim yang telah berbah menjadi ular bersisik yang cantik dan berwarna-warni.

Tarian kematian dan kesedihan terus berlangsung, dengan penuh perhatian Anggaranim menyaksikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di hadapannya, namun tidak setetes pun ia menitikkan air mata. Lagu dan tarian diikuti Anggaranim dengan menghentakkan ekornya ke air sembari mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda gembira dan menyetujui atas tarian dan gendang itu. Sejak berkumandangnya gendang dan tari-tarian mengiringi kepergian Si Anggaranim ini kemudian dikenal perayaan adat “Horja Turun”. Sebelum meninggalkan tempat itu, Anggaranim trelebih dulu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi ke atas permukaan air, kepada adiknya Partigatiga dikatakan ada masa datang dan ada masa pergi. Bagiku tibalah saatnya untuk pergi selama-lamanya dan tak akan kembali. Maafkanlah segala dosaku. Dosamu akan tetap berada dan tinggal di dunia dan sebagai hukuman, kumohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar anak-anak gadismu jangan pernah mengalami kejadian seperti yang kualami, yaitu menjadi gadis cantik dan mempesona, karena dibalik kecantikan itu akan ada musibah yang menanti. Demikianlah kata-kata terakhir Anggaranim, lantas seluruh tubuhnya menjelma menjadi seekor ular besar hingga ke bagian kepalanya, lalu ia pun pergi menyusuri sungai itu menuju kampung kristen sekarang ke sebuah sungai yang sekarang disebut Bah Sorma (sekarang terdapat rumah potong Kotamadya Siantar di Jalan Marihat).

Begitu Anggaranim yang menjelma ular lenyap dari pandangan mereka, tari-tarian dan gendang-gendang kematian masih terus saja berlangsung hingga perlahan berhenti. Khalayak ramai yang menyaksikan kepergiannya kembali ke rumah mereka masing-masing dengan penuh haru dan pilu. Orang pada bertanya-tanya mengapa hukuman itu bisa terjadi pada diri Anggaranim. Sejak itu, nama Anggaranim berubah menjadi Nan Sorma atau Puang Sorma sesuai nama sungai Bah Sorma.



Cahaya Aneh

Beberapa waktu kemudian setelah Nan Sorma lenyap ke dasar sungai bah Sorma, cahaya aneh tiba-tiba terpancar dari sebuah bukit di Bah Silulu (sekitar 1 km jaraknya dari rumah potong kota). Kelihatan seperti suatu benda berkilat bagaikan Sinar Pelangi. Orang kemudian beramai-ramai menuju ke bukit di mana cahaya itu berada dan mereka terkejut melihat banyak ular berkeliaran di bukit itu. Mereka menduga salah satu ular terbesar tentu penjelmaan tubuh Anggaranim. Mereka lalu melaporkan peristiwa itu kepada raja Si Ali Urung, mereka kemudian berkumpul di tempat itu sambil meletakkan sebuah kotak berisikan sirih. Tak lama kemudian muncullah seekor ular besar wujud dari Anggaranim alias Nan Sorma. Ia lalu membawa sirih itu, kemudian dikunyahnya sementara kotak sirih itu dikembalikannya kepada mereka dan Nan Sorma kemudian menghilang ke semak-semak tanpa bekas. Sejak itu tempat di mana terjadinya peristiwa itu oleh keturunan Raja Siantar dijadikan sebagai tempat keramat yang mereka namakan Sombaon Nan Sorma.

Jika dirunut dari Dinasti Nagur, Damanik merupakan turunan dari Raja Nagur, yaitu Marah Silau – yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar, Soro Tilu – yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola, serta Timo Raya – yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)

Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang mengaku sub-clan Damanik di Simalungun.

Damanik merupakan morga (marga) asli dan tertua di Simalungun. Jika Damanik diberi arti Simada Manik (pemilik manik), maka Damanik berarti Pemilik Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).

Sejak zaman Nagur, Damanik telah menjadi leader bagi tamadun marga lainnya. Sebagai marga bangsawan awal, Damanik mengatur tatanan kesimalungunan.

Jika direnungkan bahwa tiap-tiap raja goraha non Damanik adalah menantu Damanik sebagai Raja kala itu. Bukan sebuah ungkapan berlebihan jika Damanik mempengaruhi dan mewarnai etnografi, linguistik, sosiokultur maupun genetika marga lain.

Jika sebagian saudara kita, mengaitkan Damanik dengan Manik. Tentu Damanik boleh berbangga atas tawaran persaudaraan tersebut. Namun jika dilihat dari perjalanan panjang morga Damanik dalam tinjauan habonaron, maka sebuah kebenaran tidaklah boleh ditiadakan.

Justru kata ‘Damanik’ dan ‘Manik’ yang hanya dibedakan suku kata ‘Da’ menjadi menarik untuk dikaji.

Jika didengar bunyi-bunyi lingual condong berubah karena lingkungannya. Dengan demikian, perubahan bunyi tersebut bisa berdampak pada dua kemungkinan. Apabila perubahan itu tidak sampai membedakan makna atau mengubah identitas fonem, maka bunyi-bunyi tersebut masih merupakan alofon atau varian bunyi dari fonem yang sama. Dengan kata lain. perubahan itu masih dalam lingkup perubahan fonetis. Tetapi, apabila perubahan bunyi itu sudah sampai berdampak pada pembedaan makna atau mengubah identitas fonem, maka bunyi-bunyi tersebut merupakan alofon dari fonem yang berbeda. Dengan kata lain, perubahan itu disebut sebagai perubahan fonemis.

Penghilangan bunyi fonemis sebagai akibat upaya penghematan atau ekonomisasi pengucapan disebut Zeroisasi dalam ilmu bahasa. Peristiwa ini biasa terjadi pada penuturan bahasa-bahasa di dunia, termasuk bahasa-bahasa di Indonesia.

Dalam bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu, kita menemukan banyak kata yang berubah dari aslinya. Misalnya, kata Sahaya menjadi Saya, Dahulu menjadi Dulu, Tetapi menjadi Tapi, dan lainnya.

Jika di Simalungun, kata Danau disebut Laut, sebutan yang diperuntukkan untuk sumber kumparan air yang besar, yang juga diperuntukkan untuk menyebut kata laut seperti dalam Bahasa Indonesia. Kata ‘Laut’ tersebut mengalami perubahan ketika disebutkan dalam bahasa Karo, menjadi ‘Lau’, dan terus bergeser pada bahasa Batak Toba menjadi ‘ Tao”. Sehingga keasliannya bisa kita urutkan menjadi: Laut (Simalungun) – Lau (Karo) – Tao (Batak Toba).

Jika diklasifikasikan zeroisasi, paling tidak ada tiga jenis, yaitu aferesis, apokop, dan sinkop. Kata Damanik dan Manik masuk dalam Aferesis, yaitu proses penghilangan atau penanggalan satu atau lebih fonem pada awal kata. Misalnya: tetapi menjadi tapi, peperment menjadi permen, upawasa menjadi puasa. Pada kata-kata itu tampak jelas yang mana kata terdahulu dan kata berikutnya. Kata Tetapi, Pepermint dan Upawasa adalah lebih tua ketimbang kata Tapi, Permen maupun Puasa.

Begitu halnya dengan Damanik dan Manik,yang tampak terjawab kini. Yaitu Damanik adalah lebih tua atau terdahulu ketimbang Manik.

Disini dikatakan bahwa Damanik bukanlah afiliasi atau sub-clan dari marga lain, baik yang ada di Simalungun maupun di luar Simalungun.



Penerus dinasti Kerajaan Siantar

Ini sebagian dari halaman buku karangan W. H. M. Schadee (Oud Archivaris van het Oostkust van Sumatra-Instituut dan M. Joustra (Archivaris van het Bataksch Instituut) berjudul De Uitbreiding van Ons Gezag in de Bataklanden, Uitgaven van het Bataksch Instituut No. 19 terbitan S. C. Van Doersburgh, Leiden Nederland-1920, halaman 30-31.

Kedua pakar sejarah Hindia Belanda ini menjelaskan bagaimana aneksasi daerah-daerah Sumatera masuk kedalam Hindia Belanda termasuk Sumatera Timur (Simalungun yang di sini ditulisnya Timoerlanden).

Dalam halaman ini, Schadee dan Joustra tegas menyebutkan bahwa raja Siantar adalah Sang Nahoealoe (lafal Belanda menyebut Sang Naualuh) yang ternyata pada tanggal 16 September 1888, Raja Siantar Sang Nahoealoe dan orang-orang besarnya (rijksgrooten=harajaan Siantar dan partuanan2nya) menyatakan tunduk (onderweping) kepada Hindia Belanda dengan menandatangani surat perjanjian (een verklaring van onderwerping) yang ditandatanganinya pada tanggal 16 September 1888 dengan surat keputusan (besluit) Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 23 Oktober 1889 nomor 25.

Di sini jelas bahwa raja yang sah di Siantar sejak zaman Belanda adalah generasi penerus leluhur Raja Sangnaualuh berlanjut sampai ke Sangnaualuh dan berlanjut secara garis lurus (anak yang dilahirkan Puang Bolon Rumanim br Saragih puteri Tuan Silampuyang) yaitu Tuan Sarma Hata Damanik terus ke Tuan Syah Alam Damanik terus ke Difi Sang Nuan Damanik (sekarang tinggal di Jakarta).

Sedangkan tungkat Kerajaan Siantar (yang dapat memangku jabatan Raja Siantar bila raja Siantar berhalangan) adalah Tuan Bandar dan Tuan Sidamanik. Itulah sebabnya ketika Raja Sangnaualuh Damanik dibuang ke Bengkalis, maka tahta pemerintahan Siantar dipangku oleh Tuan Torialam Tuan Marihat (Siantar) dan Tuan Riahata Damanik (Tuan Sidamanik--ompung/kakek Tuan Djariaman Damanik), berlanjut sampai ke Tuan Sawadim Damanik Tuan Bandar--setelah Tuan Riah Kadim yang diangkat Belanda jadi Raja dimakzulkan dari tahta Kerajaan Siantar. Tuan Sawadim memangku jabatan Raja Siantar sampai pecah Revolusi Sosial.



Mengapa Tuan Sarma Hata tidak dinobatkan jadi raja? Mr Djariaman Damanik mengetahui persis duduk ceritanya, tetapi tidak baik diungkap di sini, ini masalah intern keluarga besar Raja Siantar. Pembaca yang penasaran boleh bertanya kepada Mr Tuan Djariaman Damanik di Medan.Ini sebagian dari halaman buku karangan W. H. M. Schadee (Oud Archivaris van het Oostkust van Sumatra-Instituut dan M. Joustra (Archivaris van het Bataksch Instituut) berjudul De Uitbreiding van Ons Gezag in de Bataklanden, Uitgaven van het Bataksch Instituut No. 19 terbitan S. C. Van Doersburgh, Leiden Nederland-1920, halaman 30-31. Kedua pakar sejarah Hindia Belanda ini menjelaskan bagaimana aneksasi daerah-daerah Sumatera masuk kedalam Hindia Belanda termasuk Sumatera Timur (Simalungun yang di sini ditulisnya Timoerlanden). Dalam halaman ini, Schadee dan Joustra tegas menyebutkan bahwa raja Siantar adalah Sang Nahoealoe (lafal Belanda menyebut Sang Naualuh) yang ternyata pada tanggal 16 September 1888, Raja Siantar Sang Nahoealoe dan orang-orang besarnya (rijksgrooten=harajaan Siantar dan partuanan2nya) menyatakan tunduk (onderweping) kepada Hindia Belanda dengan menandatangani surat perjanjian (een verklaring van onderwerping) yang ditandatanganinya pada tanggal 16 September 1888 dengan surat keputusan (besluit) Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 23 Oktober 1889 nomor 25. Di sini jelas bahwa raja yang sah di Siantar sejak zaman Belanda adalah generasi penerus leluhur Raja Sangnaualuh berlanjut sampai ke Sangnaualuh dan berlanjut secara garis lurus (anak yang dilahirkan Puang Bolon Rumanim br Saragih puteri Tuan Silampuyang) yaitu Tuan Sarma Hata Damanik terus ke Tuan Syah Alam Damanik terus ke Difi Sang Nuan Damanik (sekarang tinggal di Jakarta). Sedangkan tungkat Kerajaan Siantar (yang dapat memangku jabatan Raja Siantar bila raja Siantar berhalangan) adalah Tuan Bandar dan Tuan Sidamanik. Itulah sebabnya ketika Raja Sangnaualuh Damanik dibuang ke Bengkalis, maka tahta pemerintahan Siantar dipangku oleh Tuan Torialam Tuan Marihat (Siantar) dan Tuan Riahata Damanik (Tuan Sidamanik--ompung/kakek Tuan Djariaman Damanik), berlanjut sampai ke Tuan Sawadim Damanik Tuan Bandar--setelah Tuan Riah Kadim yang diangkat Belanda jadi Raja dimakzulkan dari tahta Kerajaan Siantar. Tuan Sawadim memangku jabatan Raja Siantar sampai pecah Revolusi Sosial. Mengapa Tuan Sarma Hata tidak dinobatkan jadi raja? Mr Djariaman Damanik mengetahui persis duduk ceritanya, tetapi tidak baik diungkap di sini, ini masalah intern keluarga besar Raja Siantar. Pembaca yang penasaran boleh bertanya kepada Mr Tuan Djariaman Damanik di Medan



Erond L. Damanik, M.Si : Manuscript yang ada dan meriwayatkan tentang kerajaan Nagur adalah Parpadanan Na Bolag (PNB). Namun demikian, manuskrip itu membutuhkan analisis tajam serta kehati-hatian yang tinggi karena banyak menyebut nama person, peristiwa dan daerah yang kini tidak dapat di compare dengan peta yang ada. Misalnya, dimanakah Padang Rapuhan, atau dimanakah Hararasan, atau Bondailing?. Oleh sebab itu, terhadap manuskrip tersebut mutlak dilakukan Discourse Analysis, sehingga dapat memunculkan makna yang terkandung dalam teks atau naskah.

Literatur Simalungun yang mencoba menyajikan tentang Nagur adalah Hukum Adat Simalungun (Djahutar Damanik, 1984) atau Sejarah Simalungun (TBA Tambak, 1976) tidak banyak mengupas tentang manuskrip dan keberadaan Nagur, namun cenderung menuliskannya berdasarkan oral tradition version. Demikian pula pada buku Pustaha Simalungun yang tersimpan di Perpustakaan Daerah Sumut yakni hasil transliterasi latin oleh JE. Saragih, masih terbatas pada tradisi pengobatan yang ada di Simalungun, tak satupun dalam pustaha tersebut merujuk pada nama ‘Nagur’.

Persoalan lainnya adalah, bahwa riwayat kerajaan Nagur (Nakkureh, Nakkur, Japur) banyak disebut dalam laporan pengelana Eropa dan Tiongkok, namun dimanakah letak daripada kerajaan tersebut masih membutuhkan analisis panjang yang melibatkan Arkeolog dan Sejarawan. Dengan demikian, riwayat kerajaan Nagur dinasti Damanik di Simalungun tersebut masih memerlukan penelitian dan pengkajian secara menyeluruh (komprehensif) terutama dengan melibatkan arkeolog dan sejarawan serta antropolog sehingga riwayat kerajaan besar tersebut semakin sempurna dan berlandaskan perspektif ilmiah. Lagipula, penelitian dan kajian ilmiah, mutlak dilakukan untuk mendukung sejarah lisan yang berkembang dalam masyarakat.

Berdasarkan persepsi literer (kepustakaan) tersebut diatas, diyakini bahwa kerajaan Nagur pernah eksis di Sumatra Timur tepatnya di Simalungun. Paling tidak hal tersebut dibuktikan dengan adanya catatan-catatan dari pengelana asing yang singgah di Sumatra Timur dari abad ke-6 hingga ke 16. Demikian pula tersedianya manuskrip yang meriwayatkan kerajaan tersebut, ataupun dikenalnya kerajaan tersebut melalui tradisi lisan. Namun demikian, untuk memperjelas eksisitensi kerajaan tersebut, baiknya dilakukan penelitian dan pengkajian yang melibatkan lintas disiplin sehingga dapat diterima kebenarannya. Paling tidak, saran ini bermanfaat atau ditujukan kepada pemerintah kabupaten Simalungun di Pematang Raya, ataupun pihak-pihak, badan atau instansi yang berwenang, demikian pula lembaga kemasyarakatan Simalungun yang ada.

Admin
Admin

Jumlah posting : 18
Join date : 28.02.12

http://batak.nicetopics.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: SEJARAH KERAJAAN NAGUR DAN MARGA DAMANIK DI SUMATERA TIMUR, SERTA SIMALUNGUN (500-1946)

Post  samosir25 on Wed Mar 07, 2012 12:15 pm

Beda "Damanik" dan "Manik" dimananya yak ???? klo bisa di perjelas lebih Detail.. Soalnya, yg ku tahu cuman "Asalnya" ajah.... klo Mrg "Manik" itu berasal dari "Toba" tapi klo "Damanik" itu berasal dari "Simalungun" ..... Question

Tolongnya !!!!!
bounce
avatar
samosir25
newbie
newbie

Jumlah posting : 6
Join date : 02.03.12
Age : 28
Lokasi : Palembang

http://toni25samosir.blogspot.com/

Kembali Ke Atas Go down

Re: SEJARAH KERAJAAN NAGUR DAN MARGA DAMANIK DI SUMATERA TIMUR, SERTA SIMALUNGUN (500-1946)

Post  Admin on Thu Mar 08, 2012 8:44 am

samosir25 wrote:Beda "Damanik" dan "Manik" dimananya yak ???? klo bisa di perjelas lebih Detail.. Soalnya, yg ku tahu cuman "Asalnya" ajah.... klo Mrg "Manik" itu berasal dari "Toba" tapi klo "Damanik" itu berasal dari "Simalungun" ..... Question

Tolongnya !!!!!
bounce
gini.... damanik itu marga yang tetap tinggal di simalungun tanpa melakukan suatu perpindahan atau merantau... sedangkan manik adalah damanik yang merantau ke daerah toba...

Admin
Admin

Jumlah posting : 18
Join date : 28.02.12

http://batak.nicetopics.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: SEJARAH KERAJAAN NAGUR DAN MARGA DAMANIK DI SUMATERA TIMUR, SERTA SIMALUNGUN (500-1946)

Post  samosir25 on Thu Mar 08, 2012 11:08 pm

[b]Jadi itulah Bedanya yak ??
Sad
tapi Damanik = Manik gitu yak ??
Suspect
cuman, bedanya hanya di Kultur tempat tinggal ???
Question
avatar
samosir25
newbie
newbie

Jumlah posting : 6
Join date : 02.03.12
Age : 28
Lokasi : Palembang

http://toni25samosir.blogspot.com/

Kembali Ke Atas Go down

Re: SEJARAH KERAJAAN NAGUR DAN MARGA DAMANIK DI SUMATERA TIMUR, SERTA SIMALUNGUN (500-1946)

Post  Admin on Fri Mar 09, 2012 12:43 pm

samosir25 wrote:[b]Jadi itulah Bedanya yak ??
Sad
tapi Damanik = Manik gitu yak ??
Suspect
cuman, bedanya hanya di Kultur tempat tinggal ???
Question


ok tambahan dari searching sana-sini

Code:
By Tumpuandamanik Medan and Andohar Damanik in Keluarga Marga Damanik

jawabnya :

Jika dirunut dari Dinasti Nagur, Damanik merupakan turunan dari Raja Nagur, yaitu Marah Silau – yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar, Soro Tilu – yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola, serta Timo Raya – yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)



Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang mengaku sub-clan Damanik di Simalungun.



Damanik merupakan morga (marga) asli dan tertua di Simalungun. Jika Damanik diberi arti Simada Manik (pemilik manik), maka Damanik berarti Pemilik Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).



Sejak zaman Nagur, Damanik telah menjadi leader bagi tamadun marga lainnya. Sebagai marga bangsawan awal, Damanik mengatur tatanan kesimalungunan.



Jika direnungkan bahwa tiap-tiap raja goraha non Damanik adalah menantu Damanik sebagai Raja kala itu. Bukan sebuah ungkapan berlebihan jika Damanik mempengaruhi dan mewarnai etnografi, linguistik, sosiokultur maupun genetika marga lain.



Jika sebagian saudara kita, mengaitkan Damanik dengan Manik. Tentu Damanik boleh berbangga atas tawaran persaudaraan tersebut. Namun jika dilihat dari perjalanan panjang morga Damanik dalam tinjauan habonaron, maka sebuah kebenaran tidaklah boleh ditiadakan.



Justru kata ‘Damanik’ dan ‘Manik’ yang hanya dibedakan suku kata ‘Da’ menjadi menarik untuk dikaji.



Jika didengar bunyi-bunyi lingual condong berubah karena lingkungannya. Dengan demikian, perubahan bunyi tersebut bisa berdampak pada dua kemungkinan. Apabila perubahan itu tidak sampai membedakan makna atau mengubah identitas fonem, maka bunyi-bunyi tersebut masih merupakan alofon atau varian bunyi dari fonem yang sama. Dengan kata lain. perubahan itu masih dalam lingkup perubahan fonetis. Tetapi, apabila perubahan bunyi itu sudah sampai berdampak pada pembedaan makna atau mengubah identitas fonem, maka bunyi-bunyi tersebut merupakan alofon dari fonem yang berbeda. Dengan kata lain, perubahan itu disebut sebagai perubahan fonemis.



Penghilangan bunyi fonemis sebagai akibat upaya penghematan atau ekonomisasi pengucapan disebut Zeroisasi dalam ilmu bahasa. Peristiwa ini biasa terjadi pada penuturan bahasa-bahasa di dunia, termasuk bahasa-bahasa di Indonesia.



Dalam bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu, kita menemukan banyak kata yang berubah dari aslinya. Misalnya, kata Sahaya menjadi Saya, Dahulu menjadi Dulu, Tetapi menjadi Tapi, dan lainnya.



Jika di Simalungun, kata Danau disebut Laut, sebutan yang diperuntukkan untuk sumber kumparan air yang besar, yang juga diperuntukkan untuk menyebut kata laut seperti dalam Bahasa Indonesia. Kata ‘Laut’ tersebut mengalami perubahan ketika disebutkan dalam bahasa Karo, menjadi ‘Lau’, dan terus bergeser pada bahasa Batak Toba menjadi ‘ Tao”. Sehingga keasliannya bisa kita urutkan menjadi: Laut (Simalungun) – Lau (Karo) – Tao (Batak Toba).



Jika diklasifikasikan zeroisasi, paling tidak ada tiga jenis, yaitu aferesis, apokop, dan sinkop. Kata Damanik dan Manik masuk dalam Aferesis, yaitu proses penghilangan atau penanggalan satu atau lebih fonem pada awal kata. Misalnya: tetapi menjadi tapi, peperment menjadi permen, upawasa menjadi puasa. Pada kata-kata itu tampak jelas yang mana kata terdahulu dan kata berikutnya. Kata Tetapi, Pepermint dan Upawasa adalah lebih tua ketimbang kata Tapi, Permen maupun Puasa.



Begitu halnya dengan Damanik dan Manik,yang tampak terjawab kini. Yaitu Damanik adalah lebih tua atau terdahulu ketimbang Manik.



Disini dikatakan bahwa Damanik bukanlah afiliasi atau sub-clan dari marga lain, baik yang ada di Simalungun maupun di luar Simalungun

Admin
Admin

Jumlah posting : 18
Join date : 28.02.12

http://batak.nicetopics.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: SEJARAH KERAJAAN NAGUR DAN MARGA DAMANIK DI SUMATERA TIMUR, SERTA SIMALUNGUN (500-1946)

Post  samosir25 on Fri Mar 09, 2012 3:32 pm

Mungkin saat ini, bisalah saya Terima...
heheh
Laughing
avatar
samosir25
newbie
newbie

Jumlah posting : 6
Join date : 02.03.12
Age : 28
Lokasi : Palembang

http://toni25samosir.blogspot.com/

Kembali Ke Atas Go down

Re: SEJARAH KERAJAAN NAGUR DAN MARGA DAMANIK DI SUMATERA TIMUR, SERTA SIMALUNGUN (500-1946)

Post  Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik